Musrenbang Jabar, Harmonisasi Pembangunan dengan Alam
Oleh Kang Warsa
Hari kemarin, Rabu, 15 April 2026, saya diberi tugas kembali untuk meliput kegiatan Musyawarah Perencanaan Pembangunan RKPD Jawa Barat tahun 2027. Seperti biasa, kami tim Protokol dan Dokumentasi Pimpinan berangkat lebih pagi, pukul 03.00 WIB dari Kota Sukabumi menuju Kota Bandung.
Karena masih sangat pagi, sepanjang jalan tidak disesaki oleh kendaraan, kemacetan terurai dengan sisa-sisa istirahat semalam. Jalanan basah karena kemarin hujan mengguyur wilayah-wilayah di Tatar Pasundan secara merata. Jadi, prediksi BMKG tentang musim kemarau tahun ini akan lebih panjang dari sebelumnya belum sepenuhnya benar. Yang terjadi justru cuaca ekstrem masih membersamai keseharian kita.

Poto dokumentasi Prokopim Kota Sukabumi
Kegiatan Musrenbang Jawa Barat tahun ini diselenggarakan di Bale Gede Pakuan, sebuah bangunan kokoh dan besar yang memadukan harmonisasi antara arsitektur modern sederhana dengan polesan bambu atau hinis yang akrab dengan nilai luhur tradisional di Tatar Sunda. Renovasi Bale Gede Pakuan ini, bagi saya, semakin mengokohkan peran ke-Sunda-an dalam pemerintahan yang dipimpin oleh Kang Dedi Mulyadi.
Bukan hanya Bale Gede Pakuan, ornamen dan unsur-unsur tradisional menjadi hiasan nyata yang menjadi penanda sebuah seremonial konstitusional dipadukan dengan nilai lama tradisional komunal. Di bawah Bale Gede, saya menyaksikan langsung bunga-bunga, sayuran, kelapa, padi, dan hasil pertanian ditata menghasilkan hiasan indah. Ini tak kalah menarik meskipun dibandingkan dengan hiasan taman buatan modern di acara seremonial seperti resepsi pernikahan.
Asap putih mengepul dari perdupaan melahirkan aroma harum yang mengisi setiap ruangan dan keluar dari celah-celahnya, membumbung tinggi. Dalam tradisi leluhur, asap putih ini menjadi simbol ketulusan niat dan harapan. Kendati demikian, dalam pandangan modern, apa yang dulu disimbolkan sebagai kesucian oleh leluhur nusantara tak lebih dari upaya agar ruangan dipenuhi oleh aroma harum yang dapat membangkitkan berkas positif di dalam tubuh, selanjutnya menghasilkan sikap tenang dan rileks. Ya, dapat dibandingkan jika ruangan dipenuhi oleh bau “kentut”.
Musrenbang ini menjadi momentum untuk menyelaraskan visi dan misi pembangunan provinsi dengan daerah. Para kepala daerah dan Kepala Bappeda bersama jajarannya mulai berdatangan memenuhi Bale Gede Pakuan. Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh para anggota legislatif dari pusat hingga daerah. Dalam merencanakan pembangunan provinsi, memang semua pihak mesti dilibatkan agar pembangunan dan perencanaannya menjadi tanggung jawab bersama. Pelibatan ini bukan berarti semua pihak berhak untuk menikmati kue pembangunan dalam bentuk anggaran.
Saya menyimak baik-baik sambutan dari Wakil Menteri Dalam Negeri, Pak Akhmad Wiyagus. Ada beberapa ucapan yang sangat telak menuntut setiap kepala daerah termasuk unsur Forkopimda untuk merenung kembali. Kata Wamendagri: Jangan sampai sudah ada efisiensi namun setiap daerah masih menerapkan insentif untuk unsur Forkopimda.
Ia lebih menitikberatkan anggaran yang ditransfer ke daerah digunakan untuk pelayanan publik. Beberapa daerah masih memperlihatkan performa kurang baik, hal ini biasanya menjadi pintu masuk untuk melakukan tindak korupsi. Maka ia merekomendasikan agar setiap daerah, termasuk yang ada di Jawa Barat, benar-benar bersikap inovatif di tengah kebijakan pengetatan fiskal daerah.
Suasana menjadi lebih hangat saat Kang Dedi Mulyadi (KDM) menyampaikan pidato tentang konsep pembangunan di Jawa Barat. Untuk tahun 2026-2027, pembangunan di Jawa Barat akan tetap difokuskan pada konektivitas dan aksesibilitas dari mulai pembangunan infrastruktur jalan, PJU, marka jalan, dan hingga komunikasi.
Hal tersebut dipandang wajar mengingat wilayah Jawa Barat merupakan daerah yang berada di hamparan tanah dan tumpukan bukit serta gunung dengan lempeng-lempeng aktif. Maka konsep pengadaan infrastruktur harus membangun harmonisasi antara pembangunan dengan alam.
Konsep pembangunan nusantara kuno adalah pedoman bagi masyarakat Sunda agar alam benar-benar merestui apa yang dibangun, dengan demikian pembangunan akan benar-benar terpakai, dirasakan, dan bertahan lama. Leluhur Nusantara dipandang oleh KDM, khususnya orang-orang Sunda, yang telah menghasilkan sebuah naskah penting Sanghyang Siksa Kandang Karesian, adalah naskah pedoman pembangunan sosial kultural lemah cai.
Sayangnya, naskah tersebut jarang dikaji. Selain menggunakan aksara Sunda Buhun, kita memang telah jarang mengoneksikan diri kita dengan leluhur sendiri. Mengkoneksikan atau membangun jaringan bukan berarti kita “ngamat” atau menyambat kehadiran arwah leluhur, namun membangkitkan DNA dan kromosom yang diwariskan oleh leluhur kita melalui genetika. Semua ini dapat ditempuh saat seseorang melakukan perilaku terpuji, baik, bersih, dan tidak ditumpangi oleh kepentingan pribadi.
Hal paling penting dalam membangun satu kawasan, daerah, hingga sebuah provinsi yaitu jangan sampai menghilangkan jati diri, jangan sampai “jati kasilih ku junti” . Konsepsi yang telah diwariskan oleh leluhur kita jangan sampai terputus dan menghasilkan missing link yang pada akhirnya kita sebagai orang Sunda hanya meraba-raba dan mencoba-coba konsep lain yang sejatinya tidak memiliki pertalian organik dengan diri kita sendiri.




