Hikmah

Menutup Aib adalah Jalan Rahmat, Membukanya adalah Pintu Luka bagi Anak dan Umat

Maraknya tayangan pertikaian antara pelakor dan istri sah di media sosial bukan sekadar tontonan sesaat. Ia adalah tanda melemahnya adab dalam menjaga kehormatan keluarga. Ketika persoalan rumah tangga dipertontonkan ke ruang publik, yang terluka bukan hanya orang dewasa yang berselisih, tetapi juga anak-anak yang tidak pernah memilih untuk berada di tengah konflik itu.

Dalam ajaran Islam, menjaga aib adalah bagian dari kemuliaan akhlak. Rasulullah ﷺ bersabda:“Barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat.” (HR. Muslim)

Al-Qur’an juga mengingatkan: “Sesungguhnya orang-orang yang senang tersebarnya perbuatan keji di tengah orang-orang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (QS. An-Nur: 19)

Karena itu, membuka persoalan rumah tangga ke ruang publik bukan hanya memperpanjang luka, tetapi juga mengikis rasa malu yang seharusnya menjadi benteng kehormatan keluarga dan masyarakat.

Dampak tayangan seperti ini menjalar ke keluarga lain. Ia perlahan menurunkan kepekaan masyarakat terhadap nilai kesetiaan, mengaburkan batas antara masalah pribadi dan konsumsi publik, serta menanamkan contoh yang keliru bagi generasi muda tentang cara menyelesaikan konflik rumah tangga. Anak-anak yang menyaksikan atau bahkan menjadi bagian dari konflik yang tersebar luas di media sosial dapat tumbuh dengan rasa malu, kehilangan rasa aman, dan membawa luka batin yang panjang.

Padahal Allah memerintahkan agar keluarga dijaga dari kerusakan dan kehancuran:“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Media sosial seharusnya menjadi ruang saling menguatkan, bukan tempat mempertontonkan keretakan keluarga. Rumah tangga adalah amanah, bukan panggung pertikaian. Anak-anak adalah titipan Allah, bukan korban dari emosi orang dewasa yang kehilangan kendali.

Mari kita jaga lisan, jaga jari, dan jaga hati. Karena setiap aib yang kita sebarkan bisa menjadi sebab terbukanya luka bagi anak-anak yang tidak bersalah dan melemahnya sendi-sendi akhlak umat.

 

KH. Rizal Yusup Ramdhan, Wakil Katib Syuriyah PCNU Kota Sukabumi

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button