Karnaval Budaya, Ekspresi Identitas Sunda di Perayaan Hari Jadi ke-112 Kota Sukabumi
Oleh Kang Warsa

Hari jadi ke-112 Kota Sukabumi diisi dengan rangkaian acara, salah satunya karnaval budaya dan pembangunan. Komunitas, perangkat daerah, dan masyarakat diajak untuk terlibat langsung dalam kegiatan ini. Maka, pada Sabtu, 18 April 2026, sejak pagi, Lapang Merdeka mulai didatangi oleh para peserta karnaval dengan berbagai varian kostum, atribut, dan ornamen (papaés diri) yang rata-rata mencerminkan tradisi Sunda. Kehadiran mereka bukan hanya meramaikan perayaan, melainkan membawa simbol-simbol kebudayaan yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat, dari yang bersifat seremonial hingga yang berakar pada keseharian.
Seperti yang telah direncanakan oleh panitia, peserta karnaval akan melakukan konvoi dari Lapang Merdeka menuju Balai Kota melalui rute: Jl. Veteran, Jl. Suryakencana, Bunut, Jl. Siliwangi, dan Jl. R. Syamsudin. Sepanjang rute tersebut, ruang kota seolah berubah menjadi panggung budaya terbuka. Selama konvoi dan saat tiba di depan Balai Kota, seluruh peserta dituntut untuk menampilkan kreasinya sesuai dengan corak dan tema seni yang mereka usung. Interaksi antara peserta dan masyarakat yang menyaksikan menjadikan karnaval ini menjadi pengalaman kolektif yang mempertemukan ekspresi budaya dengan ruang publik.
Kegiatan semacam ini selalu digelar oleh Pemerintah Kota Sukabumi dengan beberapa nama berbeda namun substansi tampilan yang relatif sama. Pada 2017, di masa kepemimpinan H. Mohamad Muraz, pemerintah kota pernah menyelenggarakan “Helaran Budaya” untuk memperingati hari jadi ke-104 Kota Sukabumi.
Kemudian pada tahun 2023, di masa Achmad Fahmi, digelar “Kirab Budaya Merah Putih” dalam rangka memeriahkan HUT ke-78 Kemerdekaan Indonesia. Variasi penamaan ini menunjukkan adanya dinamika dalam cara pemerintah membingkai perayaan, meskipun secara esensial tetap berorientasi pada penampilan budaya sebagai daya tarik utama.
Delapan windu setelah “Helaran Budaya”, sebagai arak-arakan besar penampilan seni tradisional di Kota Sukabumi, di masa kepemimpinan Ayep Zaki saat ini, kembali diselenggarakan acara serupa dengan format karnaval budaya dan pembangunan. Perpaduan dua hal yang tampak berbeda; budaya dan pembangunan sebenarnya menunjukkan relasi yang saling mengisi. Pembangunan tidak semata dimaknai sebagai infrastruktur fisik, tetapi juga dapat menyasar pembangunan kebudayaan. Sementara itu, budaya tidak hanya dipertahankan sebagai warisan, tetapi juga dikembangkan agar tetap relevan dalam kehidupan modern.
Jika merujuk pada perjalanan dan sejarah Kota Sukabumi sendiri, perayaan besar dengan beragam variannya memang kerap dilakukan di Lapang Merdeka. Patut diduga, pada masa kolonial ketika lapangan ini masih bernama Victoria Park, ruang tersebut telah digunakan sebagai pusat kegiatan seremonial. Ini berarti, Lapang Merdeka memiliki jejak historis sebagai ruang publik yang sejak lama menjadi arena perayaan, meskipun dengan makna dan kepentingan yang berbeda di setiap zamannya.
Dalam beberapa abad terakhir, istilah karnaval sendiri telah mengalami pergeseran makna. Akar kata ini berasal dari bahasa Latin carni vale yang berarti “menjauhi daging”. Karnaval pada mulanya merupakan tradisi umat Katolik menjelang Paskah, yang ditandai dengan praktik berpantang sebagai bentuk pengendalian diri. Tradisi ini pada awalnya identik dengan kesederhanaan, karena daging dianggap sebagai makanan mewah. Namun, dalam perkembangan sejarahnya, makna tersebut mengalami perluasan. Setiap perayaan yang melibatkan arak-arakan, pertunjukan, dan kemeriahan kemudian disebut sebagai karnaval, meskipun telah jauh dari makna religius awalnya.
Pergeseran makna tersebut pada akhirnya mengubah cara pandang manusia. Jika pada masa awalnya karnaval diisi dengan permenungan atas kesederhanaan hidup, maka pada era modern ia dimaknai sebagai pesta yang penuh kemeriahan. Dari yang semula berangkat dari nuansa asketis, kini berubah menjadi ekspresi sukacita kolektif. Meskipun demikian, tidak ada batasan tunggal dalam memaknai karnaval. Ia dapat menjadi ruang refleksi sekaligus ruang perayaan, selama memiliki tujuan yang baik, misalnya sebagai media pelestarian tradisi Sunda.
Korservasi tradisi Sunda di tengah masyarakat perlu terus digalakkan, mengingat pada masa kini kita berada dalam situasi di mana segregasi budaya dan infiltrasinya berlangsung secara halus. Arus globalisasi membawa nilai-nilai baru yang sering kali menggeser praktik budaya lokal tanpa disadari. Menjaga budaya sama halnya dengan menjaga keberadaan diri kita sendiri. Ungkapan bahwa budaya adalah jati diri bangsa menemukan relevansinya melalui kegiatan semacam karnaval budaya ini. Tanpa budaya yang azali atau “pituin”, kita berisiko kehilangan arah dalam memahami identitas kita sebagai bagian dari masyarakat Sunda.
Dengan cara menggeneralisasi, kita dapat melihat arak-arakan karnaval budaya dengan berbagai varian kostum serta tradisi yang ditampilkan sebagai cermin dari keseharian masyarakat. Ia merepresentasikan keberagaman, baik dalam status sosial, etnik, keyakinan, maupun pandangan hidup. Apa yang ditampilkan oleh perwakilan pemerintah melalui perangkat daerah serta oleh masyarakat dan komunitas memperlihatkan adanya perbedaan cara memaknai budaya, sekaligus menunjukkan kekayaan perspektif yang hidup di tengah masyarakat.
Rata-rata peserta dari perangkat daerah menampilkan simbol-simbol tradisi yang merujuk pada masa kejayaan kerajaan Sunda, dengan kostum bergaya menak yang sarat ornamen dan estetika kerajaan. Sementara itu, peserta dari masyarakat dan komunitas lebih banyak menampilkan “waruga somah”, yakni kehidupan rakyat kebanyakan, dengan penampilan sederhana seperti pangsi, kebaya, serta pernak-pernik yang digunakan dalam keseharian atau momen tertentu. Bahkan, busana glamor seperti pakaian pengantin yang dikenakan sebagian peserta perempuan menunjukkan bahwa tradisi juga memiliki dimensi seremonial yang tidak selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Meskipun kedua entitas ini menampilkan corak yang berbeda, pada dasarnya mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu melestarikan dan menampilkan kembali tradisi-tradisi yang mulai tergerus oleh zaman. Ada kesadaran bersama untuk menghadirkan tradisi tersebut ke dalam ruang publik masa kini sebagai bagian dari transformasi kebudayaan.

Poto Karnaval Kota Sukabumi (dokumentasi Prokopim Kota Sukabumi)
Pada tahap berikutnya, mengingat gagasan ini kerap lahir dari pemerintah dan diwujudkan melalui agenda resmi, terdapat pula harapan bahwa penampilan tradisi semacam ini dapat memikat kehadiran masyarakat dari luar daerah untuk berkunjung ke Kota Sukabumi. Dengan demikian, karnaval berpotensi menjadi strategi kultural yang memperkuat identitas daerah sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata.



