Pendidikan, Kebodohan dan Kemiskinan, Kebangkitan Yang Belum Selesai
Oleh Mulyawan Safwandy Nugraha

Setiap 20 Mei selalu terasa berbeda bagi saya. Ada semacam jeda yang memaksa untuk berhenti sejenak. Bukan sekadar mengingat sejarah, tapi mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang kita lanjutkan hari ini.
Saya sering membayangkan lahirnya Budi Utomo. Bukan organisasi besar dengan fasilitas lengkap. Ia lahir dari kesadaran sederhana. Bahwa kebodohan tidak boleh terus diwariskan. Dari sana, kebangkitan dimulai.
Namun ketika melihat kondisi sekarang, saya merasa ada kegelisahan yang sama. Kita sudah merdeka, tapi belum sepenuhnya bebas. Kebodohan dan kemiskinan masih berdiri berdampingan. Kadang bahkan saling menguatkan.
Saya ingat masa kecil saya. Tidak semua teman bisa sekolah sampai selesai. Bukan karena tidak mampu berpikir. Tapi karena keadaan memaksa mereka berhenti. Ada yang harus bekerja. Ada yang tidak punya biaya.
Di situ saya mulai mengerti sesuatu. Pendidikan bukan hanya soal bangku sekolah. Ia adalah pintu menuju kemungkinan hidup. Ketika pintu itu tertutup, masa depan ikut menyempit.
Yang membuat saya sering berpikir adalah cara kita memandang pendidikan hari ini. Kita bangga pada angka. Kita sibuk pada data. Tapi kadang lupa bertanya, apakah anak-anak benar-benar belajar.
Gedung bisa dibangun. Kurikulum bisa diperbarui. Tapi tanpa kesungguhan, semua itu terasa kosong. Pendidikan seharusnya melahirkan manusia yang mampu berpikir. Bukan hanya menghafal.
Kebodohan hari ini juga berubah bentuk. Ia tidak selalu terlihat. Banyak orang bisa membaca, tapi sulit memahami. Banyak yang punya akses informasi, tapi tidak mampu memilah.
Di sisi lain, saya melihat harapan yang nyata. Ada guru yang tetap mengajar dengan sepenuh hati. Tanpa fasilitas lengkap, tapi dengan komitmen yang kuat. Dari ruang sederhana, lahir keberanian untuk bermimpi.
Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi cermin. Kita diajak jujur melihat diri sendiri. Pendidikan bukan pelengkap. Ia adalah jalan utama. Selama kita masih percaya pada itu, kebangkitan akan terus hidup.




