Kolom

Persib di Sanubariku

Oleh Kang Warsa

Rasa bangga terhadap Persib Bandung telah terinternalisasi dalam diri saya dan anak-anak kampung sejak usia dini. Kecintaan itu seolah diwariskan dari dua generasi sebelumnya: kakek dan orangtua kami. Proses internalisasi tersebut berlangsung secara alamiah, tanpa paksaan, melalui media sederhana berupa radio yang biasa disetel ketika RRI menyiarkan langsung pertandingan Persib.

Alam bawah sadar kami merekam bagaimana para orangtua dan sebagian besar masyarakat kampung memberikan dukungan moril kepada Persib. Saat gol tercipta, mereka bersorak gembira. Sebaliknya, ketika ada pemain yang tampil kurang baik, terdengar seruan kecewa, “Waduhhh!”

Jarak kampung kami dengan Kota Bandung sebagai markas Persib terpaut ratusan kilometer. Namun, melalui radio transistor yang sederhana, masyarakat merasa dekat dengan kesebelasan kebanggaannya. Semua tumbuh dan mengalir begitu saja secara alami.

Pada tahun 1980-an, anak-anak seusia saya selalu ramai membicarakan ritme dan alur permainan Persib setelah pertandingan usai. Informasi itu mereka serap dari siaran radio dan obrolan orang-orang dewasa. Saya masih ingat seorang teman bernama Jajat Sudrajat. Dengan kepolosan masa kanak-kanak, saya sempat mengira bahwa saat reporter menyebut “Ajat Sudrajat membawa bola”, yang dimaksud adalah teman saya sendiri. Padahal, reporter sedang menyebut salah satu pemain Persib paling populer saat itu, Ajat Sudrajat.

Selain melalui radio, sesekali kami menonton pertandingan Persib melalui televisi milik tetangga. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa berdesak-desakan menyaksikan pertandingan. Meskipun televisi saat itu masih hitam putih, perhatian kami tetap tertuju penuh pada Persib. Sorak sorai pecah ketika Persib mencetak gol, dan wajah-wajah berubah muram saat gawang Persib kebobolan. Rasa itulah yang tumbuh dalam diri para pendukung setia, bahkan dirasakan oleh anak-anak sekalipun.

Pada tahun 1990-an, saya pernah berasumsi bahwa salah satu indikator menjadi pendukung setia Persib adalah dada yang berdebar-debar, rasa tegang, dan deg-degan selama pertandingan berlangsung. Perasaan itu mirip dengan semangat nasionalisme saat menyaksikan Timnas Indonesia bertanding melawan negara lain. Ketika Persib menang, anak-anak bersuka ria dan berteriak kegirangan. Sebaliknya, ketika kalah, mereka ikut kecewa, tetapi tetap optimistis Persib akan menang pada pertandingan berikutnya.

Setelah kecintaan terhadap Persib tertanam kuat, tanpa perlu disuruh siapa pun, anak-anak mulai menggunakan nama-nama pemain Persib seperti Ajat, Adeng, Jajang, Robby, dan Sobur saat bermain bola di kebun atau di sawah. Mereka bermain peran sebagai pemain idolanya masing-masing. Bahkan, tim lawannya pun dibuat menyerupai klub-klub kuat saat itu, seperti PSMS Medan yang dikenal sebagai lawan tangguh Persib.

Jumlah jersey anak-anak pada masa itu masih sangat langka. Namun, beberapa teman mencoret-coret kaos mereka dengan tulisan “Persib”. Itulah bentuk kecintaan terbesar anak-anak tahun 1980-an terhadap Persib. Meski kecintaan mereka begitu besar, mereka tidak pernah merasa paling Persib dibandingkan orang lain. Tanpa disadari, anak-anak telah menunjukkan bahwa Persib bukan hanya milik mereka, melainkan milik siapa saja yang mencintainya.

Pengalaman paling mengesankan pada era 1980–1990-an yang masih saya ingat adalah ketika Persib bertanding selepas Magrib. Secara spontan, pengajian di masjid pun diliburkan. Ajengan di kampung kami menjadi bukti nyata bahwa Persib dicintai oleh berbagai kalangan, lintas usia, dan tanpa sekat apa pun. Tokoh agama atau ajengan di kampung kami pun merupakan bobotoh setia Persib.

Sepintas mungkin ada yang bergumam, “Masa pengajian kalah oleh pertandingan Persib?” Namun, pandangan sempit seperti itu justru tidak sesuai dengan kaidah ushul. Dalam kaidah disebutkan bahwa “Perintah untuk melakukan suatu perbuatan pada waktu yang lapang tidak menuntut untuk segera dilakukan saat itu juga.” Pengajian di masjid dapat dilakukan setiap malam, kecuali malam Jumat karena ada pengajian rutin bapak-bapak, sedangkan menonton bersama Persib hanya bisa dilakukan pada saat pertandingan berlangsung.

Persib dicintai oleh masyarakat dari berbagai kalangan dari mulai petani, pedagang, ajengan, pegawai desa, RT, RW, hingga anak-anak. Bahkan, Persib mampu melampaui sekat-sekat politik. Persib adalah bagian dari ingatan, kebersamaan, dan denyut kehidupan masyarakat Sunda. Sejak dulu hingga sekarang, Persib selalu ada di dalam sanubariku.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button