Kolom

Membaca Zaman Melalui Pemikiran Ranggawarsita

Oleh Kang Warsa

Sering kali kita merasa hidup di zaman yang paling kacau. Setiap membuka media sosial, televisi, atau portal berita, kita disuguhi berbagai peristiwa yang membuat dahi mesti berkerut. Korupsi seolah tidak pernah selesai, ketimpangan sosial semakin terasa, kekerasan muncul dalam berbagai bentuk, dan ruang publik dipenuhi pertengkaran yang melelahkan. Di tengah situasi seperti itu, muncul pertanyaan sederhana: apakah bangsa ini sedang bergerak maju atau justru mundur?

Barangkali pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab secara hitam putih. Sebab kehidupan, sebagaimana alam semesta, tidak bergerak dalam garis lurus. Ia berputar, berulang, dan membentuk siklus yang terkadang sulit kita pahami ketika sedang berada di dalamnya.

Apa yang sedang dialami bangsa Indonesia hari ini sesungguhnya bukanlah peristiwa yang benar-benar baru. Sejarah manusia, sejak ribuan tahun lalu, selalu memperlihatkan pola yang hampir sama; ada masa kejayaan, ada masa kemunduran; ada masa kebijaksanaan, ada juga masa ketika keserakahan mengambil alih akal sehat.

Mungkin kita terlalu sering melihat kehidupan hanya dari rentang waktu yang pendek. Kita menilai keadaan berdasarkan lima atau sepuluh tahun terakhir. Padahal jika perspektif diperluas hingga ratusan atau ribuan tahun, kita akan menemukan bahwa manusia selalu belajar dari krisis yang mereka ciptakan sendiri.

Pada awal sejarahnya, manusia bukanlah penguasa bumi. Leluhur kita hanyalah salah satu spesies yang berjuang bertahan hidup di tengah alam yang keras. Mereka hidup dalam ketakutan. Setiap hari harus mencari makanan sekaligus menghindari ancaman predator yang lebih kuat. Tidak ada jaminan hidup esok hari. Tidak ada negara, hukum, sekolah, ataupun rumah sakit.

Dalam kondisi seperti itu, sifat-sifat dasar manusia terbentuk. Rasa takut, naluri mempertahankan diri, keinginan menguasai sumber daya, dan kecenderungan mencurigai kelompok lain bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Semua itu adalah warisan purba yang membantu manusia bertahan hidup selama puluhan ribu tahun.

Kemudian datang Revolusi Kognitif sekitar 70 ribu tahun lalu. Inilah titik balik yang mengubah sejarah manusia. Leluhur kita mulai mampu berpikir secara simbolik, membangun bahasa, bekerja sama dalam kelompok besar, dan menciptakan berbagai alat sebagai perkakas bertahan hidup. Tombak menjadi taring baru manusia. Api menjadi pelindung. Cerita dan mitos menjadi perekat sosial.

Kemudian sekitar 12 ribu tahun lalu terjadi Revolusi Pertanian. Manusia berhenti menjadi pengembara dan mulai menetap. Mereka menanam, beternak, membangun kawasan, berkembang menjadi kota dan peradaban. Dari sinilah lahir hukum, pemerintahan, sistem religi, ilmu pengetahuan, seni, dan berbagai sistem sosial yang kita kenal sekarang.

Namun ada satu hal yang menarik. Meskipun peradaban berkembang begitu jauh, manusia tidak pernah benar-benar meninggalkan sifat-sifat purbanya. Teknologi berubah, tetapi naluri dasarnya tetap sama.

Karena itu, ketika kita melihat korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, atau keserakahan yang dilakukan oleh orang-orang terdidik, sesungguhnya kita sedang menyaksikan pertarungan antara manusia modern dan manusia purba yang hidup dalam tubuh yang sama. Gelar akademik boleh tinggi, teknologi boleh canggih, tetapi jika keserakahan lebih dominan daripada kebijaksanaan, maka manusia modern dapat bertindak sama primitifnya dengan leluhurnya ribuan tahun lalu.

Fenomena pamer kekayaan yang marak di media sosial, misalnya, bukanlah gejala yang benar-benar baru. Dalam bahasa antropologi, itu merupakan ekspresi status sosial. Dahulu manusia menunjukkan dominasi melalui kekuatan fisik atau kepemilikan wilayah. Kini dominasi ditunjukkan melalui kendaraan mewah, rumah besar, pakaian bermerek, dan berbagai simbol kemapanan lainnya. Bentuknya berubah, tetapi nalurinya tetap sama.

Demikian pula dengan konflik sosial dan politik. Ketika masyarakat terpecah ke dalam kelompok-kelompok yang saling membenci, sesungguhnya kita sedang melihat bangkitnya kembali naluri tribalisme. Pada masa lampau, manusia hidup dalam kelompok-kelompok kecil yang harus selalu waspada terhadap kelompok lain. Naluri itu masih tersimpan dalam diri kita hingga hari ini. Bedanya, sekarang ia muncul dalam bentuk polarisasi politik, fanatisme kelompok, atau permusuhan di ruang digital.

Karena itu, ketika bangsa ini menghadapi berbagai persoalan, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa semuanya telah berakhir. Bisa jadi kita sedang berada dalam sebuah fase pembelajaran sejarah. Alam dan kehidupan sedang mengajarkan sesuatu kepada kita.

Dalam khazanah Nusantara, terutama pemikiran Ranggawarsita, terdapat konsep Cakra Manggilingan, yaitu roda kehidupan yang terus berputar. Tidak ada kejayaan yang abadi, tetapi tidak ada pula kemunduran yang berlangsung selamanya.

Ranggawarsita menggambarkan adanya fase Kalatidha, yaitu zaman ketika akal sehat menjadi kabur. Pada masa ini kebenaran sulit dibedakan dari kebohongan. Informasi bercampur dengan manipulasi. Orang jujur sering kali tersisih, sementara mereka yang pandai memainkan keadaan justru memperoleh keuntungan.

Setelah itu muncul fase Kalabendu, yaitu masa ketika ketidakadilan dan krisis moral semakin terasa. Nilai-nilai luhur mulai memudar. Kesopanan dianggap kuno. Kebijaksanaan dianggap kelemahan. Kemewahan dipertontonkan tanpa rasa empati terhadap mereka yang hidup dalam kesulitan.

Namun pemikiran Ranggawarsita tidak berhenti pada pesimisme. Setelah fase-fase sulit itu, selalu ada harapan menuju Kalasuba, yaitu masa ketika manusia kembali menemukan keseimbangan, keadilan, dan kemakmuran.

Pertanyaannya bukan kapan Kalasuba datang. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kita sedang mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Sebab perubahan zaman tidak lahir dari langit. Ia lahir dari kesadaran manusia. Dari kemampuan setiap individu untuk mengendalikan keserakahan, memelihara kejujuran, menghargai sesama, dan tetap berpikir jernih di tengah kebisingan informasi.

Mungkin itulah pelajaran terbesar yang sedang diberikan oleh alam dan kehidupan kepada bangsa ini. Bahwa kemajuan selalu beririsan dengan kedewasaan manusia. Bahwa bangsa yang besar bukan bangsa yang tidak pernah mengalami krisis, melainkan bangsa yang mampu belajar dari setiap krisis yang dihadapinya.

Karena itu, zaman ini tidak perlu disikapi dengan kemarahan yang berlebihan, apalagi keputusasaan. Kita cukup menjalaninya dengan nalar yang sehat, hati yang jernih, dan sikap yang bijaksana.

Orang Sunda mengenal ungkapan ulah kabawa ku sakaba-kaba, jangan mudah terbawa arus. Orang Jawa mengenal nasihat eling lan waspada, selalu ingat dan waspada. Keduanya mengajarkan hal yang sama bahwa dunia boleh berubah, zaman boleh berganti, tetapi manusia harus tetap memiliki kompas moral yang menuntunnya.

Kita harus menyadari, bangsa ini sedang belajar. Dan seperti semua proses belajar, pelajarannya sering kali tidak nyaman. Namun justru dari ketidaknyamanan itulah lahir kedewasaan. Alam tidak sedang menghukum kita. Kehidupan tidak sedang memusuhi kita. Keduanya sedang mengajar kita menjadi lebih arif sebagai manusia dan sebagai bangsa.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button