Ketika Keadilan Menjadi Jalan Ibadah
Oleh Mulyawan Safwandy Nugraha
عن جابر رضي الله عنه: أن رَسُول الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: ((اتَّقُوا الظُّلْمَ؛ فَإنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ القِيَامَةِ. وَاتَّقُوا الشُّحَّ؛ فَإِنَّ الشُّحَّ أهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ…)) رواه مسلم
“Takutlah kalian terhadap kezaliman. Sesungguhnya kezaliman itu adalah kegelapan pada hari kiamat…”
Ada satu pesan mendasar dari hadis ini. Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga menekankan keadilan sebagai inti keberagamaan. Ketika seseorang menahan diri dari berbuat zalim, sesungguhnya ia sedang menjalankan ibadah dalam bentuk yang paling konkret.
Al-Qur’an menegaskan:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلظُّلُمَـٰتُ وَٱلنُّورُ
“Apakah sama antara kegelapan dan cahaya?” (QS Ar-Ra’d: 16)
Pertanyaan ini bukan sekadar retoris. Ini adalah undangan untuk berpikir. Kegelapan bukan hanya soal tidak adanya cahaya, tetapi kondisi ketika manusia kehilangan orientasi moral. Dalam konteks ini, kezaliman adalah bentuk paling nyata dari kegelapan itu.

Kezaliman sering muncul bukan karena ketidaktahuan, tetapi karena kepentingan. Orang tahu mana yang benar, tetapi memilih jalan lain. Di sinilah letak pentingnya kesadaran etis dalam Islam. Iman tidak berhenti pada pengakuan, tetapi harus hadir dalam tindakan.
Seorang yang beriman akan selalu bertanya: apakah langkah ini adil. Apakah keputusan ini merugikan orang lain. Apakah posisi yang saya ambil menempatkan sesuatu pada tempatnya. Ini yang disebut oleh para ulama sebagai sikap ihsan dalam kehidupan sosial.
Imam Al-Maraghi menjelaskan bahwa zalim adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Dalam bahasa sederhana, ketika hak orang lain kita ambil, ketika amanah kita abaikan, ketika kekuasaan kita gunakan untuk kepentingan pribadi, di situlah kezaliman terjadi.
Masalahnya, kezaliman sering dibungkus dengan legitimasi. Kekuasaan membuat orang merasa benar. Sistem membuat orang merasa aman. Padahal dalam pandangan agama, semua itu tidak mengubah hakikat. Zalim tetap zalim.
Hadis ini juga mengaitkan kezaliman dengan sifat kikir. Ini menarik. Karena akar dari banyak kezaliman adalah ketamakan. Orang tidak cukup dengan apa yang dimiliki. Ia ingin lebih, bahkan jika harus melanggar batas.
Sejarah manusia menunjukkan hal itu. Konflik, peperangan, penindasan, banyak dipicu oleh keinginan berlebih. Nabi mengingatkan bahwa sifat ini telah menghancurkan umat sebelumnya. Artinya, ini bukan masalah baru. Ini pola yang berulang.
Dalam hadis qudsi disebutkan:
“Wahai hamba-Ku, Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian.”
Ini pernyataan yang sangat kuat. Allah sendiri menegaskan bahwa kezaliman tidak memiliki tempat dalam sistem ilahi. Maka tidak ada alasan bagi manusia untuk melegitimasi kezaliman dalam bentuk apa pun.
Di tingkat personal, pesan ini sederhana. Jangan menyakiti orang lain. Jangan mengambil yang bukan hak. Jangan memanfaatkan kelemahan orang. Ini dasar moral yang harus dijaga.
Di tingkat sosial, pesan ini menjadi lebih kompleks. Sistem harus adil. Kebijakan harus berpihak pada kemaslahatan. Kepemimpinan harus berorientasi pada pelayanan, bukan dominasi.
Kita sering melihat bagaimana kezaliman terjadi secara sistemik. Ketika aturan dibuat untuk segelintir orang. Ketika suara rakyat diabaikan. Ketika keadilan bisa dibeli. Ini semua bentuk kegelapan yang disebut dalam hadis.
Dan kegelapan itu tidak berhenti di dunia. Ia akan berlanjut di akhirat. Dalam bentuk yang lebih nyata. Dalam bentuk yang tidak bisa disembunyikan.
Al-Qur’an menggambarkan:
وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ
“Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha: 124)
Ini simbol yang kuat. Orang yang di dunia menutup mata terhadap kebenaran, di akhirat benar-benar kehilangan penglihatan.
Karena itu, menjadi adil bukan pilihan tambahan. Ini inti dari keberagamaan. Ini jalan menuju cahaya. Ini bentuk ibadah yang sering kita lupakan.
Jika setiap orang menjaga dirinya dari kezaliman, banyak masalah sosial akan selesai. Tidak perlu teori yang rumit. Tidak perlu jargon yang tinggi. Cukup kembali pada prinsip dasar: jangan zalim.
Dan di situlah agama menemukan relevansinya. Bukan hanya di masjid, tetapi di setiap keputusan hidup.




