Bahaya Loyalitas Buta Dalam Kepemimpinan
Seri ke-11
Bahaya Loyalitas Buta dalam Kepemimpinan
Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Penulis merupakan praktisi pendidikan, pegiat literasi, pendidik, peneliti, pengabdi juga sebagai Dosen UIN SGD Bandung. Bidang kajian yang diminati adalah kepemimpinan dan manajemen pendidikan Islam. Tulisan-tulisan ini adalah salah satu seri tentang keresahan penulis yang pernah menjadi guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, asesor akreditasi, pengurus yayasan, aktivis organisasi, dan pengamat pendidikan. Di NU, saat ini berkhidmat di PCNU Kota Sukabumi sebagai salah satu Wakil Ketua Tanfidziyah.
============000============
Seorang santri pernah ditanya oleh kiai: “Mengapa kamu patuh pada perintah pemimpinmu?” Si santri menjawab polos, “Karena katanya pemimpin itu bayang-bayang Tuhan di muka bumi.” Kiai menghela napas pelan. “Nak,” katanya, “kalau bayangan itu lebih gelap dari cahaya, maka ia tak menunjukkan arah, tapi malah menyesatkan.”
Begitu banyak orang hari ini mencintai pemimpinnya tanpa syarat. Apa pun yang dilakukan, dibela. Apa pun yang dikatakan, diaminkan. Bahkan ketika salah, mereka berlomba-lomba membuat alasan. Itulah yang disebut loyalitas buta. Dan loyalitas semacam itu bukan cinta, tapi taklid yang membutakan akal.
Dalam Al-Qur’an, Allah memperingatkan kita tentang kaum yang mengikuti pemimpin mereka secara membabi buta. “Mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).'” (QS. Al-Ahzab: 67). Ayat ini bukan hanya teguran, tapi juga peringatan: cinta yang tanpa nalar bisa membawa kita ke jurang kehancuran.
Kang Jalal sering bercerita tentang bagaimana umat bisa tersesat bukan karena musuh, tetapi karena cinta yang salah arah. Seperti orang yang terlalu kagum pada sopirnya, sampai ia tak sadar mobilnya dibawa ke jurang. “Kadang,” kata Kang Jalal, “cinta membuat kita lupa: bahwa yang kita cintai juga bisa keliru.”
Dalam sejarah Islam, kita mengenal kisah tragis tentang kaum Khawarij, sebagai pengikut fanatik yang semula mendukung Imam Ali, lalu membelot karena tidak sesuai dengan tafsir mereka. Fanatisme membunuh akal sehat. Mereka tidak lagi mengenal perbedaan. Semua yang tak sepaham dianggap sesat. Dan sejarah pun berulang: hari ini, kita melihatnya dengan rupa yang berbeda, tapi jiwa yang sama.
Loyalitas yang sehat itu tidak buta. Ia datang dari pengenalan, bukan pengagungan. Ia lahir dari hati yang berpikir. Ia bukan sekadar tepuk tangan di depan pemimpin, tapi juga keberanian untuk mengingatkan ketika ia melenceng. Kang Jalal bilang, “Pemimpin sejati adalah ia yang dikelilingi oleh orang-orang yang berani mengatakan: Engkau salah.”

Sayangnya, banyak pemimpin justru menikmati loyalitas buta. Ia suka dikelilingi orang yang hanya tahu memuji. Ia bangga kalau setiap rapat hanya diisi oleh anggukan. Ia senang kalau media sosial penuh pujian. Tapi sesungguhnya, di sanalah awal dari keruntuhan. Karena pujian yang tak berdasar membuat telinga tuli dan hati tertutup.
Ada satu cerita menarik. Seorang murid bertanya pada gurunya, “Bagaimana caranya membedakan pemimpin sejati dengan pemimpin yang haus pujian?” Sang guru menjawab, “Lihatlah bagaimana ia bersikap pada orang yang mengkritiknya. Jika ia mendengarkan dengan sabar, ia pemimpin. Jika ia marah dan menjauh, ia penguasa.”
Kepemimpinan dalam Islam bukan soal kekuasaan, tapi soal amanah. Nabi Muhammad ﷺ adalah pemimpin yang selalu dikelilingi oleh para sahabat yang berani bertanya, mengoreksi, bahkan tidak setuju. Dan beliau tidak mengusir mereka. Beliau mendengarkan. Karena beliau tahu: kebenaran tak lahir dari tepuk tangan, tapi dari dialog.
Jika dalam satu organisasi hanya ada satu suara yang paling benar, maka itu bukan organisasi. Itu panggung sandiwara. Pemimpin berkata, “Saya benar.” Pengikut menjawab, “Betul.” Dan semua berjalan dalam ilusi bahwa ini adalah kebaikan. Padahal yang terjadi hanyalah permainan keinginan dan rasa takut.
Loyalitas yang sehat akan menciptakan organisasi yang tumbuh. Di sana ada ruang untuk bertanya, ruang untuk berbeda pendapat, ruang untuk saling memperbaiki. Pemimpin dan pengikut saling mengingatkan. Karena mereka tahu, tujuan mereka bukan memelihara wibawa pribadi, tapi merawat amanah bersama.
Jadi kalau kita mencintai pemimpin kita, jangan biarkan ia terjerumus oleh pujian yang berlebihan. Jangan biarkan ia berjalan sendirian, dikelilingi orang-orang yang diam karena takut. Sebab loyalitas terbaik adalah yang berani menyelamatkan pemimpin, bahkan dari dirinya sendiri.
_Wallahu a’lamu._




