Kolom

Hari Jadi Tatar Sunda dan Pajajaran Anyar

Oleh Kang Warsa

Tanggal 18 Mei telah ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai Hari Jadi Tatar Sunda. Penetapan ini didasarkan pada peristiwa perubahan nama Kerajaan Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda oleh Tarusbawa pada abad ke-7. Kendati secara geografis Tatar Sunda telah ada jauh sebelum abad ketujuh, fondasi penamaan sebuah wilayah memang perlu berpijak pada bukti sejarah yang tercatat agar terhindar dari klaim dan ketidakakuratan data.

Peringatan Hari Jadi Tatar Sunda menjadi hal baru bagi orang Sunda. Selama ini, peringatan yang telah mengakar di tengah masyarakat dan pemerintahan biasanya berkaitan dengan hari jadi kota atau provinsi. Karena masih tergolong baru, informasi mengenai Hari Jadi Tatar Sunda perlu terus dibahasakan ulang secara telaten oleh pemerintah kepada masyarakat maupun komunitas budaya agar pemahamannya dapat tersebar lebih luas dan tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata.

Sebagai penggagas awal, Pemerintah Provinsi Jawa Barat merespons hasil penelitian Nina Herlina Lubis dengan cukup serius. Hari Jadi Tatar Sunda mulai diperingati melalui pendekatan kebudayaan yang berbeda dari perayaan hari jadi sebuah kota atau tempat pada umumnya.

Peringatan diisi dengan kirab budaya dan pertunjukan drama musikal kolosal yang dipertontonkan kepada masyarakat luas serta para tokoh nasional. Langkah ini terlihat sebagai upaya agar peringatan Hari Jadi Tatar Sunda benar-benar memiliki dampak sosial dan kultural, baik bagi masyarakat Sunda sendiri maupun bagi khalayak yang lebih luas.

Saya mendapat tugas meliput kegiatan bersejarah tersebut. Berangkat dari Kota Sukabumi pada sore hari, saya tiba di Gedung Sate, Bandung, ketika kirab budaya sedang berlangsung. Antusiasme masyarakat terlihat begitu tinggi terhadap perayaan yang berkaitan dengan jati diri mereka sendiri. Hal ini patut diapresiasi.

Dari beberapa pengunjung yang saya wawancarai, tidak sedikit yang datang dari tempat cukup jauh, seperti Cikalong, Cianjur. Kedatangan mereka tentu memiliki alasan emosional dan kultural yang kuat. Bahkan ada yang berkata dengan jujur, “Geus waktuna urang Sunda makalangan,” yang berarti sudah saatnya orang Sunda memiliki peran sentral dalam kehidupan.

Bagi masyarakat, kemeriahan acara semacam ini memang memiliki daya tarik tersendiri. Kendati harus berdesak-desakan, mereka tetap antusias menyaksikan pertunjukan hingga larut malam. Bau keringat, aroma basah setelah hujan, serta suasana yang padat tidak menjadi penghalang untuk menikmati kirab budaya. Manusia sebagai homo ludens pada dasarnya memang memiliki naluri untuk mencari hiburan sekaligus merayakan identitas kolektifnya. Antusiasme masyarakat bahkan terlihat hingga acara berakhir sekitar pukul 01.00 dini hari.

Selain menghadirkan kegiatan yang dapat disaksikan langsung oleh masyarakat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga menggelar pasanggiri paduan suara bertajuk Puspa Swara Wanoja Sunda. Pasanggiri ini diikuti oleh paduan suara rampak sekar dari 27 kota dan kabupaten se-Jawa Barat. Sebagai pecinta musik, saya benar-benar menikmati persembahan koor dari sepuluh finalis.

Aura yang terpancar dari lagu-lagu yang dibawakan menghadirkan kesan mendalam, seolah membawa saya memasuki suasana Eropa pada masa awal berkembangnya musik jenis canon, yakni teknik musik dengan pola suara yang saling susul dan bertumpuk secara harmonis yang berkembang kuat pada era Renaisans abad ke-15 hingga 16.

Menjelang puncak Hari Jadi Tatar Sunda, diselenggarakan pula drama musikal kolosal Pajajaran Gugat yang disutradarai oleh Sujiwo Tejo. Sejumlah seniman dan tokoh nasional turut terlibat dalam pertunjukan tersebut. Jika disimak secara cermat, ruang artistik yang dibangun dalam drama itu menghadirkan suasana kejayaan Pajajaran terasa begitu dekat dengan kehidupan hari ini. Sensasi tersebut lahir karena pertunjukan disajikan secara utuh dan berhasil membangun aura masa lalu secara kuat.

Kelebihan dari drama kolosal ini bukan semata menceritakan keruntuhan sebuah kerajaan, melainkan bagaimana orang Sunda diajak menyambut kembali lahirnya “kerajaan baru” yang berbeda corak, tetapi memiliki substansi nilai yang serupa dengan Pajajaran di masa silam. Dalam tradisi Sunda dikenal ungkapan “hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke”, yang bermakna bahwa keberadaan masa lalu memengaruhi eksistensi masa kini dan masa mendatang.

Orang Sunda sejak lama mengenal perpaduan antara kosmos sebagai jagat besar dan manusia sebagai jagat kecil. Keterpaduan ini disampaikan oleh Prof. Bagus Muljadi, sebelum pertunjukan drama, sebagai bentuk kecerdasan leluhur Sunda dalam membaca pertanda dan peristiwa semesta secara utuh. Kearifan inilah yang seharusnya kembali dihadirkan dalam kehidupan oleh generasi Sunda masa kini. Jati diri Sunda tidak akan lahir hanya melalui nostalgia terhadap masa lalu, melainkan melalui kesediaan untuk mencermati, mengamati, dan menghidupkan kembali warisan nilai leluhur dalam kehidupan sehari-hari.

Apa Pentingnya Hari Jadi Tatar Sunda bagi Generasi Sekarang?

Prabu Darmasiksa dalam Amanat Galunggung pernah mewanti-wanti agar orang Sunda tidak kehilangan jati dirinya. Ia menyebut bahwa lebih baik menjadi kulit lasun (musang) daripada menjadi orang Sunda yang tidak menghargai budayanya sendiri. Amanat yang diperkirakan berasal dari akhir abad ke-12 hingga awal abad ke-13 itu berisi pandangan dan ajaran etika mengenai bagaiana kehidupan ideal orang Sunda.

Dalam kajian sejarah, ucapan tersebut pada mulanya kemungkinan besar disampaikan secara lisan dalam bentuk wicara, lalu dituliskan kembali menjadi naskah pada sekitar abad ke-15 hingga 16. Karena berada dalam ranah ilmu pengetahuan, naskah Amanat Galunggung tentu terbuka untuk dikaji dan dikritisi. Misalnya, penggunaan kata “amanat” yang berasal dari bahasa Arab memungkinkan adanya pengaruh Islam dalam proses penyalinan atau penyusunan transkrip pada masa ketika Islam mulai berkembang kuat di Tatar Sunda.

Pada dasarnya, peringatan Hari Jadi Tatar Sunda bagi masyarakat Sunda merupakan salah satu bentuk penyadaran dan penemuan kembali jati diri yang selama ini perlahan tercerabut dari kehidupan modern. Generasi baru yang kini mulai disebut sebagai “Pajajaran Anyar” adalah mereka yang mampu menghidupkan kembali memori kolektif masa lalu secara holistis, sistematis, dan logis.

Pajajaran Anyar bukan berarti menghidupkan kembali kerajaan dalam pengertian politik masa lampau, melainkan menghadirkan paradigma baru orang Sunda yang sadar terhadap jati dirinya, alam dirinya, serta hubungannya dengan Dia Yang Maha Tunggal, Allah Swt. Konsep tritangtu di buana dalam tradisi Sunda tidak hanya terejawantah dalam kehidupan sosial, tetapi juga termanifestasi dalam struktur jagat gede atau makrokosmos. Keteraturan kosmos dan keteraturan sosial pada akhirnya akan melahirkan ketenangan diri. Di sanalah jati diri Sunda menemukan pancarannya dalam kehidupan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button