Kolom

Pintu yang Ditutup, Hati yang Dibuka: Ketika Basmalah Menjadi Sistem Keamanan

Mulyawan Safwandy Nugraha, Warga Nahdliyin Kota Sukabumi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ada sebuah kebiasaan sederhana yang kadang kita anggap terlalu sederhana: menutup pintu sambil membaca bismillah. Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar seperti perkara kecil. Pintu ditutup ya ditutup saja. Kalau takut maling, pasang kunci. Kalau takut pencuri, pasang CCTV. Kalau masih takut juga, tambah satpam. Kalau satpamnya ikut tidur, tambah lagi CCTV. Kalau CCTV-nya rusak, ya kita mulai berdoa. Rupanya manusia memang sering begitu: setelah seluruh teknologi dikerahkan, barulah ingat bahwa dirinya tetap makhluk yang terbatas.

Padahal Rasulullah ﷺ sudah memberikan petunjuk yang sangat sederhana:

عن جابر بن عبد الله،رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:

إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ – أَوْ أَمْسَيْتُمْ – فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ ، فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ ، وَأَغْلِقُوا الأَبْوَابَ ، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا

Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika hari mulai gelap tahanlah anak-anak kalian (untuk keluar rumah) karena saat itu syetan sedang berkeliaran. Jika telah lewat sebagian malam biarkanlah mereka. Tutuplah pintu-pintu dan ucapkanlah bismillah, karena sesungguhnya syetan tidak akan bisa membuka pintu yang tertutup.”

(HR. Bukhari no. 5623 dan Muslim no. 2012).

Hadis ini menarik bukan hanya karena berbicara mengenai setan, tetapi juga karena mengajarkan sebuah cara pandang. Islam tidak menyuruh manusia memilih antara ikhtiar dan tawakal. Pintu tetap harus ditutup, tetapi nama Allah juga harus disebut. Kunci tetap diputar, tetapi hati jangan lupa bersandar kepada Yang Maha Menguasai.

Jadi, membaca bismillah bukan berarti kita boleh meninggalkan kunci. Jangan sampai seseorang menutup pintu dengan basmalah, tetapi pintunya tidak dikunci karena merasa sudah dijaga malaikat. Itu bukan tawakal. Itu namanya memberikan kesempatan kepada maling sambil berharap malingnya sedang ikut pengajian.

Di sinilah agama mengajarkan keseimbangan yang sering hilang dalam kehidupan kita. Ada orang yang sangat rasional sampai menganggap semua perkara harus selesai dengan teknologi. Ada pula yang begitu spiritual sampai menganggap semua persoalan dapat selesai hanya dengan doa. Padahal Rasulullah mengajarkan keduanya: tutup pintunya dan sebut nama Allah.

Masalahnya, pintu rumah ternyata bukan satu-satunya pintu yang perlu ditutup.

Ada pintu mata. Ada pintu telinga. Ada pintu lisan. Ada pintu pikiran. Dan ada pintu hati.

Pintu rumah kita kunci rapat karena takut pencuri. Tetapi pintu media sosial kita biarkan terbuka sepanjang hari. Segala macam berita, fitnah, kebencian, provokasi, hoaks, kemarahan dan kesombongan masuk tanpa permisi. Anehnya, kita lebih takut pencuri mengambil televisi daripada pencuri mengambil ketenangan jiwa.

Kita memasang CCTV di depan rumah, tetapi tidak memasang “CCTV” di dalam hati.

Padahal banyak kerusakan manusia justru bermula dari pintu yang tidak dijaga. Mata dibiarkan melihat apa saja. Telinga dibiarkan mendengar apa saja. Jempol dibiarkan membagikan apa saja. Akhirnya, yang masuk ke dalam diri bukan lagi sekadar informasi, tetapi juga kebencian.

Maka ketika Rasulullah mengajarkan membaca basmalah saat menutup pintu, pesan itu sesungguhnya dapat kita renungkan lebih luas: jangan biarkan setiap pintu kehidupan terbuka tanpa pengawasan nilai-nilai ketuhanan.

Al-Qur’an bahkan menegaskan:

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ, إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ

“Sesungguhnya syetan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syetan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah Swt.”

(QS. An-Nahl: 99–100).

Ayat ini memberikan penjelasan yang sangat penting. Setan bukan penguasa mutlak atas manusia. Ia menggoda, membisikkan, memperindah keburukan, dan membuat yang salah tampak masuk akal. Tetapi manusia tetap memiliki pilihan.

Karena itu, perlindungan kepada Allah bukanlah alasan untuk berhenti berikhtiar. Kita tetap menjaga rumah, mengunci pintu, menyimpan harta dengan baik, menjaga anak-anak, membaca Ayat Kursi, berdzikir pagi dan petang, membaca Al-Qur’an, termasuk Surat Al-Baqarah, serta membaca al-Mu’awwidzatain, yaitu Al-Falaq dan An-Nas.

Ada pesan yang sederhana tetapi dalam dari semua itu: rumah yang aman bukan hanya rumah yang pintunya kuat, melainkan rumah yang penghuninya dekat dengan Allah.

Sebab boleh jadi pintu rumah kita terkunci, tetapi pintu kemarahan terbuka. Pintu rumah kita digembok, tetapi pintu kesombongan menganga. Pintu pagar ditutup, tetapi pintu iri hati justru terbuka lebar.

Maka malam ini, ketika kita menutup pintu rumah, jangan hanya tangan yang bekerja. Biarkan hati ikut mengucapkan bismillah. Sebab yang kita minta sebenarnya bukan sekadar agar setan tidak dapat membuka pintu rumah, tetapi agar kita sendiri tidak membuka pintu-pintu keburukan yang ada didalam diri.

Dan barangkali di situlah rahasia kecil dari sebuah basmalah: ia pendek di lidah, tetapi bisa menjadi panjang pengaruhnya dalam kehidupan.

Kita menutup pintu dengan tangan. Kita menguncinya dengan kunci. Tetapi kita menjaganya dengan keyakinan bahwa Allah-lah sebaik-baik penjaga.

Wallahu ‘alamu

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button