Opini

Sukabumi dalam Ingatanku : Jalan

Oleh Kang Warsa

Senja semakin turun di ufuk barat, menerangi sisa-sisa hari dengan cahaya jingga yang temaram. Saya memandangi kampung halaman yang terus berubah, dan dalam hati berbisik, barangkali tugas kita memang bukan melawan perubahan, melainkan memastikan bahwa dalam setiap perubahan, ada sesuatu yang sebaiknya tetap lestari.

####

Pepatah “Banyak jalan menuju Roma” atau all roads lead to Rome pada mulanya bukanlah ungkapan filosofis seperti yang sering kita pahami hari ini. Pepatah itu lahir dari kenyataan sejarah yang sangat konkret.

Pada abad ke-3 Sebelum Masehi, Kekaisaran Romawi membangun jaringan jalan yang menghubungkan pusat kekuasaan dengan wilayah-wilayah terjauh yang berada di bawah pengaruhnya. Dari sanalah lahir keyakinan bahwa ke mana pun seseorang pergi, pada akhirnya jalan-jalan tersebut akan bermuara ke Roma.

Dengan kata lain, pepatah tersebut pada mulanya benar-benar bermakna denotatif. Ia tidak lahir dari ruang permenungan, melainkan dari hamparan batu, tanah, dan keringat para pekerja yang membangun infrastruktur. Namun seperti banyak hal dalam sejarah manusia, sesuatu yang semula bersifat fisik perlahan berubah menjadi simbol. Jalan telah berubah menjadi metafora tentang tujuan, harapan, dan peradaban.

Sejarah mencatat, pembangunan jalan-jalan Romawi diprakarsai oleh Claudius Appius Caecus, seorang negarawan yang memahami bahwa kekuasaan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, melainkan juga kemampuan menghubungkan manusia dengan manusia lainnya. Jalan Appia atau Via Appia kemudian menjadi salah satu pencapaian terbesar Romawi dalam bidang infrastruktur.

Melalui jalan-jalan itu, distribusi kebutuhan hidup berlangsung lebih cepat. Komoditas dari wilayah pinggiran dapat tiba di pusat pemerintahan tanpa harus terhambat lumpur atau genangan air saat musim hujan. Jalan-jalan yang semula hanya berupa lintasan tanah perlahan berubah menjadi jalur yang kokoh dan dapat dilalui sepanjang waktu.

Bukan hanya perdagangan yang diuntungkan. Pergerakan legiun Romawi juga menjadi jauh lebih efektif. Kereta-kereta kuda dapat melaju dengan kecepatan yang sebelumnya sulit dibayangkan. Infrastruktur pada akhirnya menjadi alat yang memperkuat integrasi wilayah sekaligus memperpanjang usia peradaban.

Dalam perspektif sosiologis, jalan adalah sarana yang memungkinkan terbentuknya hubungan sosial. Ia mempertemukan manusia, mempercepat pertukaran gagasan, memperlancar perdagangan, bahkan menciptakan identitas kolektif. Tidak berlebihan jika banyak ilmuwan sosial menyebut infrastruktur sebagai salah satu fondasi utama lahirnya masyarakat modern.

Konstruksi jalan berbatu atau cobblestones yang dikembangkan Romawi kemudian menjadi inspirasi bagi pembangunan kota-kota di Eropa berabad-abad setelahnya. Pada abad ke-17, banyak kota mulai mengadopsi teknik serupa dengan memanfaatkan batu-batu alam berbentuk kubus, balok, maupun lempengan yang disusun secara presisi mengikuti pola geometris tertentu.

Hingga hari ini, jalan-jalan berbatu masih menjadi bagian penting dari lanskap perkotaan Eropa. Di banyak kota tua, susunan batu alam itu tidak hanya dipertahankan sebagai warisan sejarah, tetapi juga sebagai penanda identitas budaya yang membedakan mereka dari kota-kota modern yang seluruh permukaannya ditutupi aspal dan beton.

Ada alasan yang cukup sederhana mengapa jalan-jalan tersebut tetap dipertahankan. Selain memiliki nilai historis, susunan batu alam terbukti mampu meredam getaran yang ditimbulkan kendaraan. Dengan demikian, bangunan-bangunan tua yang berdiri di sepanjang jalan tidak mengalami tekanan berlebihan yang dapat mempercepat kerusakan struktur.

Menariknya, jauh sebelum saya memahami sejarah Romawi atau mengenal istilah cobblestones, saya pernah melihat bentuk jalan yang serupa di kampung halaman saya sendiri.

Pada dekade 1980-an hingga 1990-an, beberapa gang kecil di kampung dibangun menggunakan susunan batu-batu alam. Saat itu saya tidak pernah berpikir bahwa bentuk gang tersebut memiliki kemiripan dengan jalan-jalan tua yang tersebar di berbagai kota Eropa. Saya hanya menganggapnya sebagai bagian biasa dari kehidupan kampung.

Panjang gang-gang tersebut memang tidak seberapa, mungkin hanya lima hingga sepuluh meter. Namun bagi saya, nilai sebuah infrastruktur tidak selalu ditentukan oleh panjang dan lebarnya. Kadang-kadang justru pada ruang-ruang kecil itulah tersimpan cerita besar tentang cara sebuah masyarakat memandang lingkungan hidupnya.

Salah satu gang, misalnya, dihiasi batu-batu kecil berbentuk lonjong dan bulat yang disusun dengan pola tertentu. Sementara tiga gang lainnya menggunakan batu berbentuk kubus dan balok yang ditata rapat mengikuti garis-garis geometris yang cukup rapi.

Ketika mengenang kembali susunan batu tersebut, saya sering bertanya dalam hati, siapa sebenarnya yang merancangnya? Siapa yang memiliki pengetahuan teknis untuk menata batu-batu itu dengan pola yang demikian teratur? Apakah mereka belajar dari sekolah teknik, dari pengalaman kerja, atau dari pengetahuan turun-temurun yang diwariskan antargenerasi?

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa saya pada kesadaran bahwa kampung sering kali menyimpan pengetahuan yang tidak tercatat. Banyak kemampuan teknis masyarakat yang tidak pernah masuk buku sejarah, padahal keberadaannya nyata dan dapat dilihat melalui jejak-jejak fisik yang mereka tinggalkan.

Dalam ilmu sosiologi, kondisi semacam ini sering disebut sebagai pengetahuan lokal. Ia hidup dalam praktik keseharian masyarakat tanpa harus dibakukan menjadi teori. Orang-orang kampung mungkin tidak mengenal istilah arsitektur vernakular atau teknik konstruksi geometris, tetapi mereka mampu menghasilkan karya yang menunjukkan pemahaman mendalam tentang fungsi, estetika, dan ketahanan sebuah bangunan.

Karena itulah, ketika melihat kembali gang-gang berbatu di kampung, saya tidak hanya melihat tumpukan batu yang disusun di atas tanah. Saya melihat jejak kreativitas masyarakat, bentuk gotong royong yang mungkin pernah terjadi, serta cara pandang sebuah generasi terhadap ruang yang mereka bangun bersama.

Sayangnya, berbeda dengan kota-kota tua di Eropa yang masih mempertahankan jalan-jalan berbatu sebagai bagian dari ingatan bersama, hampir seluruh gang berbatu di kampung kini telah berubah menjadi rabat beton. Modernisasi datang dengan logikanya sendiri. Beton dianggap lebih praktis, lebih cepat dibangun, dan lebih mudah dirawat.

Saya memahami alasan itu. Setiap zaman memang memiliki kebutuhan yang berbeda. Namun di saat yang sama, saya tidak bisa menahan perasaan kehilangan. Sebab yang hilang bukan hanya susunan batu, melainkan juga jejak pengetahuan, jejak estetika, dan ingatan tentang cara sebuah kampung pernah membangun indentitasnya sendiri.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button