Dosa, Tawa dan Jalan Pulang
Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Ada satu hal yang sering kita lupakan ketika bicara tentang dosa. Kita terlalu tegang. Seolah-olah hidup ini hanya soal daftar kesalahan dan hukuman. Padahal, Rasulullah ﷺ justru memberi kita cara pandang yang lebih manusiawi.
عَنْ أبى هريرة رضي الله عنه، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: ((وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا، لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ تَعَالَى، فَيَغْفِرُ لَهُمْ))
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah Swt akan melenyapkan kalian dan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa, lalu mereka memohon ampun kepada Allah Ta’ala, kemudian Allah Swt mengampuni mereka.”
(HR. Muslim)
Kalau dipikir-pikir, ini hadis yang agak “mengganggu”. Mengganggu cara kita melihat diri sendiri. Selama ini kita ingin jadi manusia yang tanpa cela. Tapi ternyata, justru di situlah letak kekeliruannya.
Manusia itu memang tempat salah. Bukan karena kita lemah saja, tapi karena kita sedang belajar. Dan belajar itu pasti jatuh. Tidak mungkin kita langsung benar sejak awal. Kalau begitu, yang jadi soal bukan dosanya. Tapi apa yang kita lakukan setelahnya.
Saya sering melihat orang yang begitu keras pada dirinya sendiri. Sedikit salah, langsung merasa tidak layak. Lalu menjauh dari Tuhan. Ini aneh. Harusnya justru mendekat.
Allah Swt sendiri sudah memberi jalan yang sangat jelas:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Ayat ini bukan untuk orang suci. Ini untuk orang yang “keterlaluan”. Yang merasa sudah terlalu jauh. Tapi tetap dipanggil: wahai hamba-Ku.
Di sini kita belajar sesuatu. Tuhan tidak memutus hubungan, justru manusia yang sering memutuskan.
Saya pernah merenung, kenapa Allah mencintai orang yang bertaubat?
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
Karena taubat itu jujur. Orang yang bertaubat tidak sedang berpura-pura. Ia mengakui dirinya. Ia tidak menutup-nutupi. Dan kejujuran seperti itu langka.
Di dunia ini, orang sering sibuk terlihat baik. Tapi di hadapan Tuhan, yang dicari bukan citra. Yang dicari adalah hati yang kembali.
Kita juga harus hati-hati. Hadis ini bukan izin untuk berbuat dosa. Ini bukan pembenaran. Ini pengingat.
Kalau jatuh, bangkit. Itu saja.
وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا
Kata “kemudian” di ayat ini penting. Ada jeda yang tidak boleh lama. Setelah salah, segera kembali. Jangan tunggu nanti.
Karena kalau ditunda, biasanya bukan lupa. Tapi sengaja.
Yang menarik, Islam tidak mendorong kita jadi malaikat. Kita tidak dituntut tidak pernah salah. Yang diminta adalah kesadaran.
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا
Ingat. Lalu kembali.

Sederhana, tapi sulit dijalankan. Karena ego kita sering lebih besar dari dosa kita sendiri.
Maka mungkin, kita perlu belajar sedikit santai dalam menghadapi diri sendiri. Bukan santai dalam dosa. Tapi santai dalam menerima kenyataan bahwa kita manusia.
Dari situ, kita bisa lebih jujur. Lebih rendah hati. Dan lebih mudah kembali.
Karena pada akhirnya, yang membuat kita dekat dengan Tuhan bukan kesempurnaan. Tapi kesediaan untuk pulang.




