Sedekah yang Menang Lawan Diri Sendiri
Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Ada satu hal yang sering luput ketika kita bicara sedekah. Kita terlalu cepat melihat angka, nominal, atau siapa penerimanya. Padahal Nabi mengarahkan perhatian kita ke sesuatu yang lebih dalam, lebih sunyi, dan sering tidak nyaman. Bukan di luar, tapi di dalam diri.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ أَتَى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ فَقَالَ « أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى وَلاَ تُمْهِلْ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلاَنٍ كَذَا وَلِفُلاَنٍ كَذَا أَلاَ وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ ».
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Seseorang pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata: ‘Wahai Rasulullah, sedekah manakah yang paling agung?’ Beliau menjawab: ‘Kamu bersedekah dalam keadaan sehat, bakhil, takut miskin, menginginkan kekayaan dan tidak menunda-nunda sampai jika (nafas) sudah ditenggorokan, kamu mengatakan: untuk si fulan sekian, untuk si fulan sekian, ingatlah bahwasanya si fulan telah memilikinya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini seperti tamparan halus. Tidak keras, tapi kena. Kita sering menunggu kondisi ideal untuk berbuat baik. Nanti kalau sudah mapan. Nanti kalau penghasilan stabil. Nanti kalau kebutuhan aman. Nanti kalau hati sudah ringan.
Masalahnya, “nanti” itu sering jadi tempat paling nyaman untuk menunda.
Padahal Al-Qur’an sudah memberi arah yang tegas:
وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan belanjakanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)
Yang menarik, Nabi justru menyebut kondisi yang secara psikologis berat. Sehat, tapi pelit. Takut miskin. Punya harapan jadi kaya. Ini kondisi paling manusiawi. Dan justru di situlah letak nilai sedekah.
Artinya, sedekah bukan soal ringan atau tidak. Justru yang berat itulah yang bernilai.

Saya sering melihat, orang menjadi sangat dermawan ketika sudah tidak punya banyak pilihan. Saat sakit, saat tua, saat merasa hidup tinggal sedikit. Lalu tiba-tiba ingin berbagi. Itu baik, tentu saja. Tapi Nabi seperti ingin bilang, jangan tunggu di titik itu.
Karena ketika sudah di tenggorokan, kata Nabi, harta itu sebenarnya sudah bukan milik kita lagi.
Ada semacam ironi di sini. Kita merasa memiliki harta selama hidup. Tapi begitu ajal mendekat, kita baru sadar bahwa kita hanya “menitipkan” ke orang lain. Bahkan tanpa kita bagi pun, harta itu akan berpindah.
Ayat berikutnya memberi perspektif yang lebih luas:
يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin dan orang dalam perjalanan.” (QS. Al-Baqarah: 215)
Sedekah bukan hanya soal memberi. Tapi soal hubungan. Dengan orang tua, keluarga, dan masyarakat. Dengan kata lain, sedekah adalah cara kita merawat keterhubungan sosial.
Dan menariknya, Al-Qur’an tidak menyebut angka. Tidak ada nominal minimal. Tidak ada batas maksimal. Yang ada adalah arah. Kepada siapa, untuk apa, dan dalam kondisi bagaimana.
Lalu ada satu ayat lagi yang sering membuat saya berpikir:
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan untuknya.” (QS. Al-Baqarah: 245)
Bahasa Al-Qur’an di sini unik. Memberi ke Allah disebut “meminjamkan”. Seolah Allah sedang mengajak kita bertransaksi. Tapi dengan janji yang tidak pernah rugi.
Masalahnya bukan di janji. Tapi di keberanian kita.
Sedekah pada akhirnya adalah latihan melawan diri sendiri. Melawan rasa takut kehilangan. Melawan keinginan menumpuk. Melawan ilusi bahwa kita akan aman jika menyimpan lebih banyak.
Saya pribadi merasakan, yang paling sulit bukan memberi. Tapi memulai memberi ketika hati masih ragu.
Di situlah hadits ini menjadi sangat relevan. Ia tidak memaksa kita jadi orang suci. Ia hanya mengajak kita jujur. Bahwa kita memang pelit. Bahwa kita memang takut miskin. Bahwa kita memang ingin kaya.
Dan justru di tengah kondisi itu, kita tetap memberi.
Mungkin di situlah letak “agung”-nya sedekah. Bukan pada besar kecilnya, tapi pada keberanian kita menaklukkan diri sendiri.
Wallahu a’lamu




