Menguji Triharmoni ala Kang sudar Fauzi : Catatan Ringan, Serius tapi santai
Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen, Peneliti, Pegiat literasi bidang leadership dan Kepemudaan. Warga NU Kota Sukabumi.

Saya membaca gagasan “Triharmoni” yang diusung dalam kepemimpinan KNPI Kota Sukabumi dengan perasaan campur aduk. Dalam statementnya, Kang Sudar Fauzi, sebagai Ketua DPD KNPI Kota Sukabumi yang baru saja terpilih, menwarkan konsep TriHarmoni dalam menjalankan organisasi yang dipimpinnya.
Sebagai pengamat, saya coba refleksi. Di satu sisi, ini konsep yang terasa segar. Di sisi lain, saya seperti pernah mendengar nada yang sama, hanya dengan aransemen berbeda. Mungkin ini bukan soal baru atau lama. Ini soal apakah ia akan benar-benar dimainkan, atau hanya jadi partitur yang indah di atas kertas.
Triharmoni, dengan tiga porosnya, organisasi kepemudaan, pemerintah, dan masyarakat, memang terdengar menjanjikan. Sederhana. Mudah diingat. Bahkan, cukup “ramah spanduk”. Dalam dunia organisasi, ini penting. Banyak gagasan besar gagal hanya karena terlalu rumit untuk dipahami. Triharmoni tidak punya masalah itu. Ia lulus dari ujian pertama, yaitu bisa diucapkan tanpa harus menarik napas panjang.
Namun, justru di situlah letak masalahnya. Sesuatu yang terlalu mudah diucapkan sering kali terlalu mudah pula dilupakan. Kita hidup di ruang publik yang penuh dengan kata-kata besar. Sinergi, kolaborasi, integrasi, semua pernah menjadi primadona. Kita mengucapkannya dalam rapat, menuliskannya dalam proposal, lalu… ya sudah. Ia menguap bersama kopi yang mulai dingin.
Triharmoni berisiko mengalami nasib yang sama jika tidak segera ditarik turun ke bumi. Harmoni itu apa? Apakah sekadar tidak ada konflik? Atau ada kerja bersama yang nyata? Jika dua organisasi pemuda masih saling sindir di belakang layar tetapi bisa foto bersama di panggung, apakah itu sudah harmoni? Kalau iya, maka kita memang sangat mudah bahagia.
Relasi dengan pemerintah juga menarik untuk dicermati. Dalam banyak kasus, organisasi kepemudaan sering berada dalam dilema klasik. Terlalu dekat, dicurigai sebagai perpanjangan tangan kekuasaan. Terlalu jauh, kehilangan akses dan pengaruh. Triharmoni seolah menawarkan jalan tengah. Tetapi jalan tengah ini licin. Sedikit saja lengah, bisa tergelincir ke salah satu sisi.
Harmoni dengan pemerintah tidak boleh diartikan sebagai kesepakatan total. Kalau semua setuju, mungkin yang salah bukan pemerintahnya, tapi keberanian kita untuk berpikir. Kritik yang sehat justru bagian dari harmoni. Seperti dalam musik, nada yang berbeda bukan masalah, selama ia masih berada dalam komposisi yang sama. Masalahnya, kita sering kali takut dianggap fals, sehingga memilih diam. Padahal, diam yang terlalu lama juga bisa memekakkan.
Di level organisasi kepemudaan sendiri, tantangannya lebih konkret. Ego sektoral bukan cerita baru. Setiap organisasi punya sejarah, identitas, bahkan luka lama. Mengajak mereka “bersatu” tanpa menyediakan ruang dialog yang jujur ibarat mengundang orang yang pernah bertengkar ke satu meja tanpa memberi kesempatan bicara. Mereka akan datang, tersenyum, lalu pulang dengan perasaan yang sama seperti sebelumnya.
Triharmoni membutuhkan mekanisme, bukan sekadar semangat. Perlu forum rutin yang bukan hanya seremonial. Perlu agenda bersama yang jelas. Perlu juga, ini yang sering dilupakan, keberanian untuk mengakui bahwa konflik itu ada. Harmoni bukan berarti tanpa gesekan. Ia justru lahir dari kemampuan mengelola gesekan itu.
Sementara itu, dimensi masyarakat sering kali menjadi bagian yang paling “aman” untuk disebut, tetapi paling sulit diwujudkan. Kita sering mengatakan ingin dekat dengan masyarakat. Tetapi dalam praktiknya, masyarakat hanya hadir sebagai latar belakang kegiatan. Mereka ada di foto, tetapi tidak selalu ada dalam perencanaan.
Jika Triharmoni ingin serius, maka ukuran keberhasilannya harus terasa di tingkat warga. Apakah pemuda lebih mudah mendapatkan ruang kerja? Apakah ada program yang benar-benar menjawab masalah pengangguran atau literasi? Jika tidak, maka harmoni dengan masyarakat hanya menjadi kalimat penutup yang sopan.
Pada akhirnya, saya melihat Triharmoni sebagai konsep yang tepat arah, tetapi belum lengkap langkah. Ia seperti peta yang bagus, tetapi belum menunjukkan jalan setapak yang harus dilalui. Di sinilah kepemimpinan diuji. Bukan pada kemampuan menciptakan istilah, tetapi pada keberanian mengubah istilah menjadi tindakan.
Saya membayangkan, beberapa tahun ke depan, kita akan menilai Triharmoni bukan dari seberapa sering ia disebut, tetapi dari seberapa banyak ia dirasakan. Jika berhasil, ia akan menjadi contoh bagaimana pemuda mengelola perbedaan menjadi kekuatan. Jika gagal, ia akan menambah satu lagi koleksi istilah indah yang pernah singgah sebentar di ruang publik kita.
Dan kita, seperti biasa, akan kembali mengangguk dalam rapat, sambil diam-diam bertanya, “Ini konsep baru lagi, atau versi daur ulang yang lebih halus?”
Buat kang Sudar, Selamat mengemban amanah ini. Semoga Allah berikan kekuatan untuk siap hadapi banyak tantangan, hambatan, rintangan bahkan mungkin ganjalan. Ingat, pelaut tangguh tidak lahir dari lautan yang tenang.
Pesan saya satu.
Jangan lupa disertasinya.
Mesti beres tahun ini.
Ditunggu sidang Promosinya.
Peace..
Wallahu ‘alamu.




