Opini

Pancasila, Humor dan Kewarasan Kita

Oleh:

Mulyawan Safwandy Nugraha

 

Kita ini kadang lucu. Mengaku paling Pancasilais, tetapi praktiknya suka keblinger. Di podium bicara persatuan, di belakang saling sikut. Di forum resmi bicara keadilan, di lapangan masih pilih-pilih. Kalau tidak disadari, ini bisa jadi kebiasaan.

Hari ini, Tanggal 1 Juni datang lagi. Spanduk dipasang, upacara digelar. Semua tampak rapi. Tetapi setelah itu, hidup berjalan seperti biasa. Kadang yang berubah hanya status di media sosial.

Saya tidak anti seremoni. Itu penting sebagai pengingat. Tetapi kalau berhenti di situ, ya sayang. Pancasila itu bukan pajangan. Ia harus dipakai, seperti kacamata. Supaya kita bisa melihat dengan lebih jernih.

Masalah kita sering sederhana. Kita ingin negara adil, tetapi kita sendiri belum tentu adil. Kita ingin pemimpin jujur, tetapi kita masih suka cari jalan pintas. Ini bukan tuduhan. Ini ajakan untuk bercermin.

Sila pertama itu bukan hanya soal ibadah. Banyak orang rajin ibadah, tetapi masih tega menyakiti. Berarti ada yang belum nyambung. Ketuhanan harusnya membuat kita lebih manusiawi, bukan sebaliknya.

Sila kedua juga sering disalahpahami. Kita cepat marah kalau disakiti, tetapi lambat minta maaf kalau menyakiti. Padahal kemanusiaan itu dua arah. Ada hak dan ada kewajiban.

Persatuan Indonesia sering dipakai saat butuh saja. Saat ada konflik, baru diingat. Padahal persatuan itu harus dirawat tiap hari. Bukan hanya saat krisis.

Sila keempat soal musyawarah. Ini yang paling sering bikin capek. Banyak yang ingin didengar, sedikit yang mau mendengar. Padahal inti musyawarah itu sederhana. Kita cari jalan tengah, bukan menang sendiri.

Keadilan sosial juga sering jadi bahan pidato. Bagus didengar, tetapi sulit dijalankan. Padahal keadilan bisa dimulai dari hal kecil. Tidak menyerobot antrean saja sudah lumayan.

Kalau Anda merasa muak melihat kondisi sekarang, itu bagus. Artinya Anda masih punya rasa. Yang bahaya itu kalau sudah tidak peduli. Negara bisa rusak kalau warganya apatis.

Namun jangan berhenti di rasa muak. Kita perlu sedikit humor. Bukan untuk meremehkan masalah, tetapi supaya kita tidak putus asa. Dengan humor, kita tetap waras. Dengan kewarasan, kita bisa bertindak.

Pancasila tidak akan jatuh hanya karena ulah sebagian orang. Ia kuat karena ditopang banyak orang biasa. Orang yang mungkin tidak terkenal, tetapi tetap jujur dan adil. Di situlah harapan Indonesia. Di tangan orang-orang yang diam-diam menjalankan nilai, bukan sekadar mengucapkannya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button