Tahun Berganti, Hati Kita Kemana?
Tahun Berganti, Hati Kita ke Mana?: Refleksi Tahun Baru Hijriah 1448 H
Oleh Mulyawan Safwandy Nugraha

Seorang sahabat pernah bertanya kepada saya, “Mengapa tahun baru Islam terasa sunyi?” Ia tidak sedang mengeluh. Ia hanya heran. Sebab di tempat lain, pergantian tahun dirayakan dengan riuh. Ada suara terompet. Ada cahaya kembang api. Ada hitungan mundur yang ditunggu bersama.
Saya tidak segera menjawab. Pertanyaan itu saya simpan. Saya bawa pulang. Saya renungkan.
Barangkali, justru di situlah letak perbedaannya. Ada tahun yang dirayakan dengan keramaian. Ada pula tahun yang disambut dengan kesunyian. Dan kesunyian sering kali lebih jujur daripada keramaian.
Dalam kesunyian, kita tidak sedang berpura-pura.
1 Muharram datang tanpa gemuruh. Ia hadir seperti seorang tamu yang mengetuk pelan pintu hati kita. Ia tidak memaksa. Ia hanya mengajak. Masalahnya, apakah kita membuka pintu itu, atau kita biarkan ia berlalu begitu saja?
Ketika Umar bin Khattab menetapkan hijrah sebagai awal kalender Islam, beliau seperti ingin mengajarkan satu hal yang sangat mendasar. Hidup ini bukan tentang dari mana kita memulai. Hidup ini tentang ke mana kita bergerak.
Hijrah bukan sekadar perjalanan Nabi dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah perjalanan jiwa. Dari gelap menuju terang. Dari sempit menuju lapang. Dari diri yang lama menuju diri yang lebih mengenal Tuhannya.
Saya sering bertanya kepada diri sendiri, sudah sejauh mana saya berhijrah?
Pertanyaan ini sederhana. Tetapi jawabannya tidak selalu mudah. Karena hijrah tidak selalu tampak di luar. Ia sering tersembunyi di dalam hati. Ia hadir dalam keputusan-keputusan kecil yang mungkin tidak dilihat orang lain.
Ketika kita memilih jujur padahal bisa saja berbohong, di situ ada hijrah. Ketika kita menahan amarah padahal ada alasan untuk marah, di situ ada hijrah. Ketika kita kembali kepada Allah setelah sekian lama menjauh, di situ ada hijrah.
Muharram adalah bulan yang dimuliakan. Tetapi kemuliaan itu bukan untuk dipajang dalam pengetahuan. Ia harus dirasakan dalam kehidupan.
Rasulullah menganjurkan puasa Asyura. Satu hari yang tampak sederhana. Namun di balik kesederhanaannya, ada janji yang besar. Penghapusan dosa setahun yang lalu. Bukankah ini undangan kasih sayang dari Allah?
Kadang kita mencari hal-hal yang jauh, padahal pintu-pintu kebaikan dibuka begitu dekat.
Tahun Baru Hijriah mengajarkan kita untuk berhenti sejenak. Bukan untuk melihat ke luar, tetapi untuk melihat ke dalam. Kita terlalu sering sibuk dengan urusan orang lain. Kita jarang duduk bersama diri sendiri.
Muhasabah adalah duduk bersama diri sendiri itu.
Kita bertanya, dengan jujur. Apa yang sudah kita lakukan? Siapa yang telah kita sakiti? Kebaikan apa yang kita tunda? Ibadah apa yang kita lalaikan?
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terasa berat. Tetapi tanpa itu, kita tidak akan pernah benar-benar berubah.
Taubat bukan tanda bahwa kita lemah. Taubat adalah tanda bahwa kita masih memiliki hati. Hati yang bisa kembali. Hati yang tidak ingin jauh dari Tuhannya.
Mungkin kita tidak menemukan kembang api di Tahun Baru Hijriah. Tidak ada panggung hiburan. Tidak ada hitungan mundur yang meriah.
Tetapi ada yang lebih penting dari semua itu. Ada doa yang lirih setelah Maghrib. Ada air mata yang jatuh tanpa disaksikan siapa pun. Ada tekad kecil yang lahir di dalam hati, “Saya ingin menjadi lebih baik.”
Dan mungkin, di hadapan Allah, itu jauh lebih berharga.
Waktu akan terus berjalan. Ia tidak menunggu kita. Tetapi Allah selalu memberi kesempatan kepada kita untuk kembali.
Maka pertanyaannya bukan lagi, sudah berganti tahun atau belum. Pertanyaannya adalah, sudahkah kita berubah?
Atau kita hanya sekadar bertambah usia, tanpa pernah benar-benar bertambah makna?




