Adab Dulu, Ilmu Menyusul : Catatan Kecil tentang Arah yang Sering Terbalik
Adab Dulu, Ilmu Menyusul: Catatan Kecil tentang Arah yang Sering Terbalik
Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Saya sering merasa, kita ini hidup di zaman yang aneh. Orang berlomba mencari ilmu, tapi lupa untuk menjadi manusia yang baik. Gelar bertambah, sertifikat menumpuk, tapi cara bicara makin kasar. Diskusi makin ramai, tapi hati makin sempit.
Padahal, Nabi sejak awal sudah memberi arah yang sangat jelas. Bukan tentang seberapa banyak kita tahu, tapi tentang bagaimana kita menjadi.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
Dari Abu Hurairah radhiyallāhu anhu berkata, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Al-Bukhārī dalam al-Adab al-Mufrad no. 273)

Kalau kita mau jujur, hadits ini sederhana. Tidak rumit. Tidak teknis. Tapi justru di situlah masalahnya. Yang sederhana sering tidak dianggap penting.
Kita lebih tertarik pada yang kompleks. Fikih detail, perdebatan panjang, istilah yang berat. Padahal Nabi justru menegaskan bahwa inti dari seluruh risalah adalah akhlak.
Saya teringat beberapa pengalaman kecil di dunia pendidikan. Ada mahasiswa yang sangat cerdas. Hafal teori, cepat menjawab, tulisannya rapi. Tapi ketika berbeda pendapat, ia mudah merendahkan temannya. Ada juga yang biasa saja secara akademik, tapi santun, mau mendengar, dan menghargai orang lain.
Kalau ditanya, mana yang lebih dekat dengan tujuan Nabi, jawabannya terasa jelas.
Ini bukan berarti ilmu tidak penting. Justru sebaliknya. Ilmu itu sangat penting. Tapi ilmu tanpa adab sering kehilangan arah. Ia bisa menjadi alat untuk merasa paling benar. Bahkan, dalam beberapa kasus, menjadi sumber konflik.
Para ulama salaf sudah lama mengingatkan ini. Imam Malik berkata, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.” Abdullah bin al-Mubarak bahkan lebih tegas, “Kami lebih membutuhkan adab daripada banyaknya ilmu.”
Kalimat ini terasa relevan sekali hari ini. Kita hidup di era informasi. Semua orang bisa tahu banyak hal. Tapi tidak semua orang tahu bagaimana bersikap.
Nabi sendiri memberi contoh yang sangat menarik. Beliau tidak langsung membanjiri sahabat dengan hukum yang rinci. Beliau membangun manusia dulu. Menanamkan kejujuran, amanah, kasih sayang. Baru setelah itu, hukum-hukum turun secara bertahap.
Artinya jelas. Ilmu syariat berdiri di atas fondasi akhlak. Kalau fondasinya rapuh, bangunannya akan mudah goyah.
Al-Qur’an bahkan menegaskan langsung kualitas pribadi Nabi:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sungguh, engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung.”
(QS. Al-Qalam: 4)
Ayat ini menarik. Allah tidak memuji kecerdasan Nabi. Tidak menyebut strategi dakwah beliau. Yang diangkat justru akhlaknya.
Seolah-olah Allah ingin mengatakan, kalau kamu ingin memahami Islam, lihat dulu bagaimana akhlak Nabi.
Dalam ayat lain, tujuan risalah juga ditegaskan:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiyā’: 107)
Rahmat itu bukan konsep abstrak. Ia terlihat dalam sikap. Dalam cara berbicara. Dalam cara memperlakukan orang lain. Bahkan dalam cara kita berbeda pendapat.
Masalahnya, kita sering merasa sudah benar hanya karena tahu dalil. Padahal dalil tanpa adab bisa melukai. Kata-kata yang benar pun bisa terasa salah kalau disampaikan dengan cara yang keliru.
Al-Qur’an memberi panduan yang sangat sederhana:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.”
(QS. Al-Baqarah: 83)
Tidak ada syarat tambahan di ayat ini. Tidak disebut hanya kepada yang sepaham. Tidak hanya kepada yang satu kelompok. Kepada manusia. Sederhana.
Dan ketika menghadapi orang yang sulit, Al-Qur’an juga tidak menyuruh kita menjadi keras:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah pemaaf, perintahkan kepada yang ma‘ruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh.”
(QS. Al-A‘rāf: 199)
Ada tiga sikap di sini. Memaafkan. Mengajak kebaikan. Dan tahu kapan harus tidak meladeni.
Kalau direnungkan, ini bukan hanya ajaran moral. Ini juga strategi sosial. Banyak konflik sebenarnya selesai kalau orang mau menahan diri sedikit saja.
Di titik ini, saya merasa kita perlu jujur pada diri sendiri. Jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk menambah ilmu, tapi jarang mengevaluasi akhlak.
Kita bangga bisa menjelaskan banyak hal, tapi belum tentu kita bisa menjaga lisan. Kita cepat mengoreksi orang lain, tapi lambat mengoreksi diri sendiri.
Padahal, ukuran keberhasilan ilmu itu sederhana. Apakah ia membuat kita lebih rendah hati. Lebih sabar. Lebih lembut.
Kalau tidak, mungkin ada yang perlu diperbaiki dari cara kita belajar.
Adab bukan pelengkap. Ia inti. Ia bukan tambahan setelah ilmu selesai. Ia harus hadir sejak awal. Bahkan berjalan bersama.
Karena pada akhirnya, orang tidak hanya mengingat apa yang kita katakan. Mereka mengingat bagaimana kita bersikap.
Dan mungkin, di situlah letak keberkahan ilmu. Bukan pada seberapa banyak yang kita kuasai, tapi pada seberapa dalam ia mengubah diri kita.
Wallahu a’lamu




