Kolom

Menjaga Agama Tanpa Kehilangan Kemanusiaan

Menjaga Agama Tanpa Kehilangan Kemanusiaan

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

 

Rasanya kita sering lebih cepat menilai daripada memahami. Apalagi ketika bicara soal bid’ah. Kata ini mudah sekali keluar dari lisan, tetapi sering kali lupa ditimbang dengan kebijaksanaan.

Padahal, Rasulullah sudah memberi batas yang sangat jelas. Bahkan redaksinya tegas, tapi tetap menyisakan ruang bagi kita untuk merenung, bukan sekadar menghakimi.

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. [رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Dari Ummul Mu’minin; Ummu Abdillah; Aisyah radhiallahuanha dia berkata: bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya, maka dia tertolak. (HR. Bukhori dan Muslim), dalam riwayat Muslim disebutkan: siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak).

Kalimat “maka dia tertolak” itu sering kita pahami secara kaku. Seolah-olah setiap hal baru dalam praktik keagamaan otomatis salah. Padahal, persoalannya tidak sesederhana itu.

Dalam hidup sehari-hari, manusia selalu berhadapan dengan perubahan. Teknologi berubah, cara belajar berubah, bahkan cara berdakwah pun ikut berubah. Pertanyaannya bukan sekadar baru atau tidak. Pertanyaannya, apakah itu masih dalam koridor ajaran atau justru keluar dari prinsip dasarnya.

Di sinilah letak kehati-hatian yang sering hilang. Kita lebih sibuk memberi label daripada memahami konteks.

Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa Islam ini sudah sempurna.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian NikmatKu, dan telah Kuridhoi Islam itu jadi agama bagi kalian. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(QS. Al-Maidah: 3)

Kesempurnaan ini sering dipahami sebagai sesuatu yang statis. Padahal, justru karena sempurna, Islam punya prinsip yang kuat untuk menjawab perubahan zaman. Bukan berarti semua yang baru ditolak, tetapi yang bertentangan dengan prinsiplah yang harus disaring.

Menariknya, Al-Qur’an juga memberi contoh tentang bagaimana manusia bisa tergelincir dalam membuat sesuatu yang tidak diperintahkan.

ثُمَّ قَفَّيْنَا عَلَى آثَارِهِمْ بِرُسُلِنَا وَقَفَّيْنَا بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَآتَيْنَاهُ الإنْجِيلَ وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا فَآتَيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا مِنْهُمْ أَجْرَهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Kemudian Kami iringkan di belakang mereka Rasul-rasul Kami dan Kami iringkan (pula) Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhoan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik.”

(QS. Al-Hadid: 27)

Ayat ini menarik. Niatnya baik. Ingin mendekat kepada Allah. Tapi caranya tidak tepat. Bahkan akhirnya tidak mampu dijaga.

Di sinilah pelajaran pentingnya. Tidak semua yang diniatkan baik otomatis benar. Tapi juga tidak semua yang berbeda langsung salah.

Kadang kita terlalu cepat memotong pembicaraan dengan satu kata, bid’ah. Padahal, yang dibutuhkan justru dialog. Duduk bersama. Mendengar. Memahami latar belakangnya.

Saya teringat suasana di banyak kampung. Orang-orang berkumpul, membaca doa bersama, tahlilan, yasinan. Ada yang langsung menilai itu bid’ah. Tapi kalau kita masuk lebih dalam, kita akan melihat ada nilai kebersamaan, ada penguatan sosial, ada rasa saling menjaga.

Apakah itu otomatis salah? Atau kita perlu melihatnya lebih jernih?

Gus Dur pernah memberi teladan penting. Beliau tidak tergesa-gesa menyalahkan. Beliau lebih memilih menjaga persatuan, tanpa harus kehilangan prinsip. Karena agama bukan hanya soal benar dan salah, tapi juga soal bagaimana menjaga manusia tetap manusia.

Hadits tadi tetap menjadi pegangan. Bahwa ibadah harus punya dasar. Tapi cara kita menyampaikan, cara kita bersikap, itu juga bagian dari ajaran Islam.

Kalau benar ingin menjaga agama, kita juga harus menjaga hati manusia. Jangan sampai semangat memurnikan justru membuat orang menjauh.

Ada yang lebih berbahaya dari bid’ah dalam praktik. Yaitu merasa paling benar sendiri.

Perasaan itu sering tidak terasa. Diam-diam masuk. Lalu kita mulai mudah menyalahkan, mudah merendahkan. Padahal Rasulullah sendiri berdakwah dengan kelembutan, bukan dengan vonis.

Menolak bid’ah itu penting. Tapi menolak dengan cara yang bijak itu jauh lebih penting.

Agama ini datang untuk memuliakan manusia. Maka ketika kita berbicara atas nama agama, seharusnya yang muncul adalah ketenangan, bukan ketegangan.

Mungkin kita perlu sedikit mengubah cara pandang. Tidak semua perbedaan harus diseragamkan. Tidak semua yang berbeda harus dihapuskan.

Yang perlu dijaga adalah prinsipnya. Tauhidnya. Keikhlasannya. Dan tentu saja, akhlaknya.

Karena pada akhirnya, agama tidak hanya diukur dari seberapa tepat dalil yang kita pegang. Tapi juga dari seberapa luas hati kita dalam menyikapi perbedaan.

Dan di situlah, kita belajar bahwa menjaga agama tidak boleh sampai menghilangkan kemanusiaan.

 

Wallaahu a’lamu

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button