Jangan Salah Pilih Teman: Tuntunan Hadits
Oleh Mulyawan Safwandy Nugraha, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Warga Nahdliyin

Ada satu hal dalam kehidupan manusia yang sering dianggap sepele, padahal pengaruhnya luar biasa besar: memilih teman. Orang biasanya sangat teliti ketika memilih rumah, kendaraan, pekerjaan, bahkan makanan. Kalau membeli mobil, mesinnya diperiksa. Kalau membeli makanan, tanggal kedaluwarsanya dilihat. Tetapi ketika memilih teman, sering kali tidak ada pemeriksaan sama sekali. Yang penting lucu, nyambung, bisa diajak ngopi, dan kalau kita sedang punya masalah, dia mau ikut mengeluh. Soal apakah ia membuat iman kita bertambah atau justru berkurang, itu urusan belakangan.
Padahal Nabi Muhammad saw. sudah memberikan peringatan yang sangat sederhana tetapi dalam:
عن أَبي هريرة رضي الله عنه أن النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ((الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَليَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ)). رواه أَبُو داود والترمذي بإسناد صحيح، وَقالَ الترمذي: (حَدِيثٌ حَسَنٌ).
“Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: Seseorang itu adalah menurut agama kekasihnya. Maka hendaklah seseorang dari engkau semua itu melihat—meneliti benar-benar—orang yang dijadikan kekasihnya itu.”
Hadits ini menarik karena Nabi tidak mengatakan bahwa seseorang hanya mengikuti pendapat temannya. Yang digunakan adalah kata dīn, agama. Artinya luas sekali: cara berpikir, cara hidup, kebiasaan, moral, bahkan cara seseorang memandang dunia.
Manusia memang makhluk yang mudah tertular. Kalau berkawan dengan orang yang gemar membaca, kita lama-lama merasa malu kalau tidak pernah membaca. Kalau berkawan dengan orang yang rajin ke masjid, suatu hari kita bisa merasa aneh sendiri kalau tidak ikut. Tetapi kalau setiap hari berkawan dengan orang yang hobinya mencaci, memfitnah, pamer kekayaan, dan menganggap korupsi sebagai “rezeki yang belum sempat disyukuri”, lama-lama hati kita bisa ikut menganggap semua itu biasa.
Yang lebih berbahaya adalah perubahan itu biasanya tidak terasa.
Tidak ada orang yang bangun pagi lalu berkata, “Hari ini saya akan menjadi orang jahat.” Tidak begitu. Kerusakan moral biasanya datang sedikit demi sedikit. Mula-mula hanya ikut tertawa ketika teman menghina orang lain. Besok ikut menyebarkan gosip. Lusa ikut membenarkan kebohongan. Setelah itu, kalau ada orang yang mengingatkan, justru dianggap terlalu alim.
Begitulah manusia. Dosa yang dilakukan sendirian kadang membuat hati gelisah. Tetapi dosa yang dilakukan bersama-sama sering terasa seperti rekreasi.
Al-Qur’an bahkan menggambarkan penyesalan manusia di akhirat karena salah memilih teman:
يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ، لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا
“Celakalah aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan itu sebagai teman akrab. Sesungguhnya dia telah menyesatkanku dari peringatan (Al-Qur’an) ketika Al-Qur’an itu datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.”
(QS. Al-Furqon: 28–29)
Ayat ini memperlihatkan bahwa persoalan teman bukan perkara kecil. Ada pertemanan yang membuat seseorang semakin dekat kepada Allah. Tetapi ada pula pertemanan yang pada awalnya menyenangkan, lalu perlahan-lahan menjauhkan manusia dari Allah.
Karena itu Al-Qur’an juga mengingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
(QS. At-Tahrim: 6)
Menjaga diri dari api neraka ternyata bukan hanya soal memperbanyak ibadah pribadi. Kita juga harus memperhatikan lingkungan tempat kita hidup. Sebab manusia bukan batu. Ia menyerap suasana di sekitarnya.
Maka Allah memberikan petunjuk yang sangat indah:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”
(QS. Al-Kahfi: 28)
Di zaman sekarang, memilih teman menjadi semakin rumit karena teman tidak lagi selalu duduk di samping kita. Teman bisa berada di dalam telepon genggam. Kita mungkin tidak pernah bertemu dengannya, tetapi setiap hari mendengar suaranya, membaca tulisannya, melihat videonya, dan mengikuti pendapatnya.
Maka pertanyaan “siapa temanmu?” sekarang juga berarti: “Siapa yang setiap hari kamu izinkan masuk ke kepalamu?”
Ini penting. Sebab algoritma media sosial kadang lebih rajin menemani kita daripada manusia. Kalau setiap hari kita memberi makan pikiran dengan kemarahan, kebencian, fitnah dan kesombongan, jangan heran kalau hati kita menjadi tempat yang tidak nyaman untuk beribadah.
Sebaliknya, kalau kita membiasakan diri berada di sekitar orang-orang yang rendah hati, suka belajar, senang menolong, menjaga lisannya, dan mengingatkan kita kepada Allah, maka kebaikan itu pun perlahan menjadi kebiasaan.
Jadi, hadits ini sebenarnya bukan hanya berbicara tentang siapa yang kita cintai sebagai sahabat. Ia berbicara tentang siapa yang kita izinkan ikut membentuk diri kita.
Teman yang baik tidak selalu orang yang selalu membenarkan kita. Justru kadang teman terbaik adalah orang yang berani berkata, “Kamu salah.” Ia tidak membuat kita selalu nyaman, tetapi membuat kita menjadi lebih baik.
Sebab teman yang hanya membuat kita senang belum tentu menyelamatkan kita. Sedangkan teman yang membuat kita malu berbuat dosa, rajin berbuat baik, dan ingat kepada Allah, boleh jadi dialah sahabat yang akan kita syukuri kelak.
Pada akhirnya, manusia memang tidak bisa memilih semua orang yang akan ditemuinya. Tetapi manusia masih diberi kesempatan memilih siapa yang akan didekatinya.
Maka sebelum memilih teman, jangan hanya bertanya: “Apakah dia menyenangkan?”
Tanyakan juga: “Kalau saya terus bersamanya, akan menjadi manusia seperti apakah saya?”
Karena boleh jadi, masa depan agama kita tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita baca, apa yang kita dengar, dan apa yang kita yakini, tetapi juga oleh siapa yang setiap hari kita jadikan teman.
Dan barangkali di situlah kita perlu lebih hati-hati. Sebab kadang-kadang yang membawa kita jauh dari Allah bukan setan yang bertanduk, tetapi teman sendiri yang sangat kita sayangi.
Wallahu ‘alamu


