Hikmah

Tanda Tanda Kebesaran Allah SWT Di Sekitar Kita : Refleksi Kecil Tentang QS An Nahl

Tanda-Tanda Kebesaran Allah Swt di Sekitar Kita: Refleksi kecil tentang QS An-Nahl

Oleh:
Dr. H. Mulyawan Safwandy Nugraha, M.Ag., M.Pd

Saya pernah terdiam cukup lama di bawah langit senja. Saat itu, awan seperti menari pelan, membentuk siluet yang tak saya pahami, tapi terasa akrab. Ada kedamaian aneh yang muncul—bukan karena indahnya warna langit, tapi karena saya merasa… dilihat. Seperti Allah sedang menyapa saya diam-diam lewat ciptaan-Nya.

Waktu itu saya baru saja membaca awal surat An-Nahl. Ayat pertamanya langsung “menyentak”, “Telah datang perintah Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan…” Ayat itu tidak panjang, tapi rasanya seperti tamparan lembut. Hidup ini memang sering kita jalani terburu-buru, seolah ingin mendahului takdir. Padahal, semesta ini tunduk dalam sabar dan tertib.

Lalu saya teringat saat menonton YouTube tentang seekor lebah yang saya lihat di sebuah taman di belakang sebuah rumah. Ia masuk ke sarangnya tanpa ribut. Diam-diam bekerja, tanpa butuh pujian. Tapi hasilnya? Madu yang manis dan penuh manfaat. Allah menyisipkan pelajaran hidup dalam makhluk sekecil itu. Kita yang konon makhluk paling mulia, justru sering malas belajar dari sekitar.

Angin yang berhembus pun tahu arahnya. Laut tahu kapan diam dan kapan bergelora. Gunung tahu kapan harus tetap kokoh. Semua ciptaan Allah bekerja dalam harmoni. Mereka tidak pernah bertanya “kenapa harus aku?”, atau “kenapa bukan yang lain saja?” Tapi kita manusia… ah, terlalu sering lupa diri. Terlalu banyak alasan, terlalu sedikit patuh.

Saya pernah merasa iri pada gunung. Dia diam, tak banyak suara, tapi selalu kuat. Tak goyah meski diterpa badai. Gunung mengingatkan saya tentang iman. Bahwa menjadi kuat itu tak selalu tentang berbicara keras, kadang tentang bertahan diam-diam. Allah titipkan kekuatan dalam keheningan. Tapi kita lebih sering ribut tanpa makna.

Matahari adalah bukti lain. Ia tidak pernah datang telat. Tidak pernah menuntut disambut. Setiap hari ia hadir membawa cahaya, menghangatkan, menghidupkan, dan pergi tanpa pamit. Ritme alam semesta adalah bentuk ketaatan yang nyaris sempurna. Saya malu. Karena saya manusia, yang katanya punya akal, malah sering ingkar pada jadwal hidup sendiri.

Saya percaya, kalau kita mau merenung sebentar saja—daun jatuh pun bisa menjadi ayat. Gemerisik angin sore bisa jadi nasihat. Tapi siapa yang mau benar-benar diam hari ini? Kita lebih sibuk scroll layar, cari hiburan, cari validasi. Kita lupa bahwa yang paling berharga bukan “likes” manusia, tapi ridha dari Pencipta langit.

Suatu saat di masa sekolah, bersama dua kawan, Saya pernah tersesat di hutan waktu ikut kegiatan alam terbuka. Panik, takut, dan entah kenapa, istighfar jadi hal pertama yang keluar. Lalu, seperti adegan film, suara burung terdengar—aneh, asing, tapi justru jadi penunjuk jalan. Saya ikuti suara itu. Arah pulang. Saya yakin, itu bukan kebetulan. Allah sedang menunjukkan jalan, lewat cara yang tidak biasa.

Hidup ini sebenarnya penuh petunjuk. Tapi kita yang terlalu sibuk membuat peta sendiri. Allah tak pernah menjauh. Justru kita yang malas mendekat. Kita menghafal doa, tapi lupa menghayatinya. Kita bicara soal keajaiban, tapi menutup mata dari mukjizat kecil setiap hari.

Surat An-Nahl tidak sekadar bicara tentang lebah. Tapi tentang sistem, tatanan, dan kasih sayang Allah yang meresap ke setiap inci alam semesta. Bahkan pada hal yang kita anggap sepele. Bahkan pada kesunyian. Bahkan pada rasa getir yang tiba-tiba hadir sore hari tanpa sebab.

Saya ingin kita semua lebih pelan. Lebih peka. Lebih sadar. Tidak perlu langsung berubah total. Tapi cobalah mulai dari satu hal kecil—melihat langit tanpa tergesa. Menikmati pagi tanpa gawai. Mendengarkan suara burung tanpa mengganggapnya gangguan. Di situ, percayalah, ada Allah yang sedang berkata-kata pada kita.

Akhirnya, saya sadar… Semesta ini bukan panggung kosong. Ini bukan ruang acak tanpa makna. Semua yang kita lihat, dengar, dan rasakan adalah bagian dari ayat.

Tugas kita sederhana: harus membuka hati, lalu percaya bahwa Allah selalu hadir. Lewat langit. Lewat lebah. Lewat detak jantung kita sendiri.

=====================
*) Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Ketua Umum Agerlip PGM Indonesia
Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Sukabumi
Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi
Ketua Komisi Pendidikan, Pelatihan dan Kaderisasi MUI Kota Sukabumi
Ketua Komisi Bidang Pendidikan ICMI Kota Sukabumi
Anggota Litbang, Perpustakaan, Kajian dan Kurikulum DKM Masjid Agung Kota Sukabumi
Ketua FU-Warci (Forum Ukhuwah Islamiyah Warga Ciaul) Kota Sukabumi

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button