Mengelola Kritik Dalam Kepemimpinan Islami
Seri ke-14
Mengelola Kritik dalam Kepemimpinan Islami

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Praktisi pendidikan, pegiat literasi, pendidik, Peneliti, Pengabdi juga sebagai Dosen UIN SGD Bandung. Bidang kajian yang diminati adalah kepemimpinan dan manajemen pendidikan Islam. Tulisan-tulisan ini adalah salah satu seri tentang keresahan penulis yang pernah menjadi guru, kepala sekolah pengawas sekolah, asesor akreditasi, pengurus yayasan, aktivis organisasi dan pengamat pendidikan.
—–000—-
Kritik, dalam pandangan sebagian orang, dianggap sebagai ancaman. Padahal jika kita menelusuri ajaran Islam, kritik yang sehat dan disampaikan dengan niat yang baik justru merupakan bentuk kasih sayang dan partisipasi moral dalam perbaikan bersama. Kepemimpinan dalam Islam tidak berdiri di atas pujian semata, tapi juga dilandasi keberanian untuk mendengar suara berbeda.
Al-Qur’an menyebutkan: “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 159)
Ayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ sendiri diperintahkan untuk bermusyawarah dengan para sahabat, padahal beliau adalah seorang yang maksum.
Musyawarah tidak mungkin terjadi tanpa adanya perbedaan pandangan, dan kritik adalah bagian dari ekspresi dalam musyawarah itu. Jika Rasul saja membuka ruang untuk pandangan berbeda, bagaimana mungkin kita sebagai pemimpin menutup rapat-rapat pintu masukan hanya karena merasa sudah benar?

Prof. Quraish Shihab dalam tafsirnya menjelaskan bahwa musyawarah bukan sekadar formalitas, tetapi sebuah sikap mental untuk rendah hati, terbuka, dan bersedia menimbang pendapat orang lain, termasuk yang berbeda. Ia adalah cermin dari kepemimpinan yang tidak otoriter, melainkan kolektif dalam orientasi dan tanggung jawab.
Dalam Perang Badar, ketika Rasulullah ﷺ memilih suatu posisi untuk berkemah, sahabat Al-Hubab bin al-Mundzir bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah tempat ini ditentukan Allah, atau ini hanya strategi perang?” Rasul menjawab, “Ini pendapatku.” Maka Al-Hubab mengusulkan agar posisi pasukan dipindah ke tempat yang lebih strategis. Rasulullah ﷺ langsung menerima usulan tersebut.
Peristiwa ini bukan semata tentang strategi, tetapi menunjukkan keterbukaan Nabi terhadap pandangan sahabat, bahkan dalam situasi genting. Inilah wujud nyata dari musyawarah dalam kepemimpinan Islam.
Kritik yang sehat harus dipisahkan dari caci maki. Dalam Islam, adab lebih tinggi nilainya daripada logika yang kasar. “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kritik tidak boleh menjadi ajang balas dendam atau saluran emosi pribadi, tetapi harus berlandaskan kepedulian dan niat memperbaiki.
Sayangnya, dalam realitas organisasi dan pemerintahan, banyak pemimpin justru dikelilingi oleh orang-orang yang hanya memberi konfirmasi, bukan koreksi. Hal ini berbahaya. Sebab, tanpa kritik, seorang pemimpin kehilangan cermin. Ia tak tahu wajahnya sendiri, hanya melihat apa yang ingin dilihatnya.
Seorang ulama sufi pernah berkata, “Orang yang paling mencintaimu adalah dia yang berani menegurmu secara jujur.” Pemimpin sejati bukan yang marah saat dikritik, tapi yang bersyukur karena masih ada yang peduli terhadap kebenaran. Dalam perspektif Islam, kritik itu tanda bahwa kepemimpinan kita belum ditinggalkan oleh nurani kolektif umat.
Dalam Tafsir Al-Mishbah, Prof. Quraish Shihab mengingatkan bahwa kepemimpinan Islami selalu disertai sifat syura (bermusyawarah), ‘adalah (keadilan), dan amanah (kepercayaan). Tanpa ketiganya, kepemimpinan hanya akan menjadi sarana kekuasaan, bukan pengabdian. Dan kritik, bila diterima dengan benar, adalah penguat bagi ketiganya.
Ada pemimpin yang menanggapi kritik dengan ancaman. Ini bukanlah karakter seorang mukmin. Rasulullah ﷺ bersabda, “Seorang mukmin itu cermin bagi mukmin lainnya.” (HR. Abu Dawud). Maka ketika ada yang mengingatkan kita, itu berarti ia sedang menunjukkan noda yang tak kita sadari—bukan sedang mempermalukan, tapi menyelamatkan.
Maka penting bagi kita untuk membangun budaya kritik yang sehat dalam setiap lapisan kepemimpinan. Kritik bukan musuh, tapi mitra pertumbuhan. Kita tidak harus selalu setuju, tapi harus selalu siap mendengar. Karena kebenaran tidak selalu datang dari atas, kadang ia muncul dari suara kecil yang jujur di bawah.
Akhirnya, kepemimpinan Islami bukan tentang kekebalan dari kritik, melainkan kesanggupan untuk mendengar, menimbang, dan berubah jika perlu. Seorang pemimpin yang terbuka terhadap kritik sejatinya telah memperkuat kepemimpinannya sendiri. Ia tidak menjadi lemah karena mendengar, justru menjadi lebih kuat karena mampu menerima kebenaran, bahkan jika datang dari arah yang tak disukainya.




