Kolom

Ramadhan dan Kesadaran Amanah dalam Kepemimpinan

Oleh Mulyawan Safwandy Nugraha

 

Ramadhan sering kali kita pahami sebagai bulan ibadah dalam arti ritual. Padahal, jika kita menelusuri lebih dalam pesan Al Quran, Ramadhan adalah bulan pembentukan kesadaran. Kesadaran tentang siapa kita, dari mana kita, dan ke mana kita akan kembali. Dalam kesadaran itu, persoalan jabatan menemukan maknanya yang paling hakiki. Jabatan bukan sekadar posisi sosial. Ia adalah amanah. Dan amanah selalu terkait dengan pertanggungjawaban.

Allah berfirman dalam QS An Nisa ayat 58, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” Para ulama menjelaskan bahwa amanah dalam ayat ini mencakup segala bentuk kepercayaan. Bukan hanya harta, tetapi juga kekuasaan, keputusan, bahkan informasi. Setiap sesuatu yang berada dalam genggaman kita dan menyangkut hak orang lain adalah amanah. Karena itu, jabatan pada dasarnya adalah titipan, bukan kepemilikan.

Al Quran juga mengingatkan dalam QS Al Ahzab ayat 72 bahwa amanah pernah ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung, tetapi mereka enggan memikulnya. Manusia yang menerimanya. Ayat ini memberi isyarat bahwa amanah bukan beban ringan. Ia memerlukan kesiapan moral dan spiritual. Jika manusia menerima amanah tanpa kesadaran akan beratnya tanggung jawab, maka ia berpotensi berlaku zalim terhadap dirinya sendiri.

Dalam konteks kepemimpinan, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa setiap kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Hadis ini memperluas makna jabatan. Seorang ayah adalah pemimpin di keluarganya. Seorang guru memimpin muridnya. Seorang pejabat memimpin masyarakatnya. Bahkan seseorang memimpin dirinya sendiri. Semua bentuk kepemimpinan itu berada dalam cakupan amanah.

Ramadhan melatih kita untuk menghadirkan kesadaran ilahiah dalam setiap tindakan. Seseorang yang berpuasa menahan diri bukan karena tidak ada kesempatan untuk melanggar, tetapi karena sadar bahwa Allah mengetahui. Inilah inti takwa. Jika takwa terwujud dalam diri pemegang jabatan, maka ia akan berhati-hati dalam menggunakan wewenangnya. Ia tidak sekadar bertanya apakah tindakannya legal, tetapi juga apakah ia adil dan membawa maslahat.

Penyimpangan amanah sering kali bermula dari hal-hal kecil. Rasa memiliki terhadap fasilitas publik. Keinginan untuk diistimewakan. Keputusan yang lebih didasarkan pada kedekatan daripada kelayakan. Islam tidak hanya menilai hasil, tetapi juga proses dan niat. Karena itu, menjaga amanah berarti menjaga kejujuran dalam detail-detail kecil yang mungkin luput dari pengawasan manusia, tetapi tidak pernah luput dari pengetahuan Allah.

Sejarah Islam memberikan teladan tentang kehati-hatian dalam memegang amanah. Umar bin Khattab, misalnya, dikenal sangat tegas memisahkan urusan pribadi dan urusan publik. Sikap ini lahir dari kesadaran bahwa setiap fasilitas negara adalah amanah umat. Keteladanan seperti ini menunjukkan bahwa integritas bukan sekadar konsep, tetapi praktik nyata yang berakar pada iman.

Pada akhirnya, jabatan akan berakhir. Masa tugas selesai. Kekuasaan berpindah. Namun pertanggungjawaban tetap ada. Al Quran menegaskan bahwa siapa pun yang berbuat kebaikan seberat zarrah akan melihat balasannya, dan siapa pun yang berbuat keburukan seberat zarrah pun akan melihat balasannya. Ayat ini menanamkan prinsip akuntabilitas yang sangat mendalam.

Karena itu, Ramadhan hendaknya menjadi momentum untuk melakukan muhasabah. Apakah amanah yang kita pegang sudah kita jalankan dengan adil. Apakah keputusan yang kita ambil sudah mempertimbangkan hak orang lain. Kesadaran inilah yang membedakan antara jabatan sebagai beban duniawi dan jabatan sebagai jalan menuju keridaan Allah. Dalam terang kesadaran itu, setiap amanah menjadi kesempatan untuk mendekat kepada-Nya, bukan sekadar sarana untuk meninggikan diri.

 

*) Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Sukabumi; Direktur Research and Literacy Institute [RLI); Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung; Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button