Hikmah

Kurban Bukan Tentang Darah Dan Daging

Oleh:
Dr.H.Mulyawan Safwandy Nugraha, M.Ag., M.Pd

Saya masih ingat momen pertama kali menyaksikan penyembelihan hewan kurban. Bukan darah atau pisau tajam yang membuat saya diam terpaku, tapi maknanya. Saya berdiri mematung, menyaksikan seekor kambing rebah dengan pasrah, seperti tahu betul bahwa dirinya sedang menjalankan tugas yang lebih besar dari sekadar menjadi santapan. Di balik tatapannya yang tenang, saya justru merasa ditanyai: “Apakah kamu sudah rela melepaskan apa yang paling kamu cintai?” Duh…..

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail sering kita dengar, bahkan mungkin kita hafal. Tapi sedikit dari kita yang benar-benar membiarkannya menyentuh. Bayangkan saja: seorang ayah diminta mengorbankan anak kandungnya demi perintah Tuhan. Ini bukan kisah tentang kekejaman, melainkan tentang ketaatan yang melampaui logika. Tentang cinta yang teruji di batas pengorbanan. Maka saat kita menyembelih hewan, yang dituntut sesungguhnya bukan hanya tangan yang kuat, tapi hati yang lapang.

Saya sering bertanya pada diri sendiri: apa “Ismail” dalam hidup saya? Apakah waktu saya yang terlalu sibuk? Apakah uang yang selalu saya simpan rapat? Atau mungkin ego saya yang tak mau kalah? Atau apapun itu. Sejatinya, Ibadah Kurban mengajarkan, kita harus belajar melepas. Tidak ada cinta sejati tanpa kerelaan untuk kehilangan. Bahkan ketika kehilangan itu terasa perih.

Kita sering berpikir bahwa kurban adalah soal besar-kecilnya hewan. Padahal bukan. Kurban bukan soal harga sapi, tapi tentang kualitas hati. Bukan tentang siapa yang menyumbang paling banyak, tapi siapa yang memberi dengan tulus. Saya pernah menyumbang baju bekas yang sudah lusuh, dan menyebutnya sebagai sedekah. Kini saya sadar, itu bukan memberi, tapi …… membuang !.

Di kampung saya, ada seorang tetangga yang sederhana sekali. Penghasilannya hanya cukup untuk makan harian. Tapi tiap Idul Adha, ia selalu berusaha ikut berkurban, meski hanya patungan seekor kambing. Saat saya tanya kenapa, jawabannya sederhana: “Saya cuma nggak mau kalah ikhlas.” Saya terdiam. Kadang orang yang tak punya banyak justru yang paling tulus dalam memberi.

Kurban juga membawa kita turun dari “menara ego”, ke “pelataran sosial” yang setara. Tak peduli siapa yang menyembelih atau siapa yang disembelihkan, semua orang ikut bersyukur dan mendapat bagian. Anak-anak berlari riang membawa bungkusan daging. Ibu-ibu tersenyum bahagia sebab bisa menanak nasi dengan lauk terbaik tahun ini. Daging sapi atau daging kambing. Tidak ada kaya atau miskin hari itu. Yang ada hanya saudara yang saling berbagi.

Bagi saya, momen membagikan daging kurban adalah saat paling “magis”. Ada keheningan yang sulit dijelaskan ketika tangan kita mengulurkan sesuatu yang bernilai kepada orang yang mungkin tak kita kenal. Kita tak perlu tahu apakah ia akan berterima kasih atau pun tidak. Karena kurban bukan soal penghargaan, tapi tentang ketulusan untuk menyeimbangkan kehidupan (harmoni).

Dan di titik inilah kita diingatkan bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan. Hidup kita, Waktu kita, Jabatan kita, keluarga kita, harta kita—semua akan kembali kepada-Nya. Maka kurban adalah latihan untuk berserah. Sebagaimana makna dari “Islam” juga adalah berserah diri. Untuk berkata, “Ya Allah, jika Engkau ingin mengambil apa pun dariku, semoga aku rela menerimanya.”

Di zaman ketika semua ingin dipamerkan, kurban justru mengajarkan keheningan, kesunyian, kesenyapan. Tidak semua kebaikan perlu diumumkan atau diviralkan. Tidak semua pengorbanan perlu dipublikasikan. Terkadang, yang paling mulia justru yang dilakukan tanpa sepengetahuan siapa pun—kecuali Allah.

Akhirnya, kurban adalah pengingat untuk pulang ke dalam diri. Mengoreksi niat. Mengurai kelekatan. Mengasah kembali makna memberi. Dan saya percaya, orang yang ikhlas berkurban, bukan hanya menyembelih hewan, tapi juga menyembelih sisi dirinya yang paling keras: *ke-aku-annya*.

Tahun ini, saya ingin belajar kembali. Belajar untuk rela. Belajar untuk memberi tanpa berharap kembali. Sebab saya tahu, ketika hati sudah bisa ikhlas melepas, saat itulah jiwa mulai benar-benar bebas.

Semoga.

==============
*) Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Ketua Umum Agerlip PGM Indonesia
Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Sukabumi
Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi
Ketua Komisi Pendidikan, Pelatihan dan Kaderisasi MUI Kota Sukabumi
Ketua Komisi Bidang Pendidikan ICMI Kota Sukabumi
Litbang, Perpustakaan, Kajian dan Kurikulum DKM Masjid Agung Kota Sukabumi
Ketua FU-Warci (Forum Ukhuwah Islamiyah Warga Ciaul) Kota Sukabumi

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button